Kamis, 15 Desember 2011

satu kata, cinta

Glitter Text Maker
Glitter Text Maker - eCards


“Teringat tentang masa lalu dan ingin rasanya aku kembali”

Aku Fathiya Farastrika atau biasa dipanggil Raras. Saat ini usiaku sudah menginjak *sensor* tahun. Simpan semua identitasku saat ini di akhir cerita. Aku ingin menceritakan pengalaman hidupku di waktu lampau. Saat aku masih kanak – kanak, saat aku masih SD, saat aku masih SMP, saat aku masih SMA lebih tepatnya saat diriku tersentuh dan mulai mengenal satu kata yang aku pun tak terlalu paham makna kata tersebut. Aku terserang kata ‘CINTA’ . mungkin bagi kalian, kata tersebut sudah biasa. Tapi bagiku, kata itu sungguh memiliki makna yang sangat dalam. Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi guru bahasa Indonesia, karena aku bisa membuat satu kata menjadi seribu makna. Sesuatu yang tak kumengerti, mengapa cinta harus datang dalam hidupku?

*****
“Ras, selamat ya! lo berhasil jadi ketua kelas”ucap Tania, teman sebangku di SMP. aku hanya membalas dengan senyuman. Ini adalah kisah saat aku SMP. disinilah aku mulai mengenal satu kata yang sudah kusebutkan tadi, cinta. Cinta pertamaku berawal saat aku masuk eskul pramuka. Aku dan Ega (cowok yang aku sir), kami berdua sangat akrab. Awalnya, aku menganggap hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi, hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika aku bertemu dengan Ega. Tepatnya hari itu, saat eskul sedang kumpul untuk membicarakan persami (perkemahan sabtu-minggu). Tak seperti biasanya, ketika Ega menghampiriku, jantungku berdebar kencang. Oh Tuhan, apakah ini yang namanya cinta? Aku benar-benar bingung dengan rasa ini. Kami sudah cukup lama berteman, tapi kenapa rasa ini baru muncul sekarang? beribu pertanyaan dan ketakutan-ketakutan berhamburan di dalam otakku. Sampai-sampai aku nyuekin Ega. Ega yang sudah terlihat kesal saat itu melambaikan tangannya di depan wajahku. “Ras? lo dengerin gue nggak sih?”. “Eeee’ denger kok Ga, hehe”aku tertawa kecil. “Emang gue ngomong apa tadi?”tanya Ega. Mampus, celaka 13! mana aku sama sekali nggak denger apa yang Ega bicarain. “Ehmm, tentang perkemahan kan?”jawabku sembari garuk-garuk kepala karena bingung mau jawab apa. Ega tertawa “Haha ngaco banget sih lo! Gue itu nggak ngomong apa-apa kali. Dasar Rarass”Ega mengelus kepalaku. Tersenyum, lebar sekali. Baru kali ini aku merasa senaaang saat Ega mengelus kepalaku. Padahal ini bukan kali pertama Ega memperlakukanku seperti itu.

Aku pulang ke rumah, seperti biasa dengan kendaraan termurah di dunia, jalan kaki. Saat itu, kendaraan umum masih sangat jarang. Tak sabar rasanya menunggu hari sabtu. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar lalu menulis di karton yang kemudian kutempelkan di dinding kamarku. *cinta, cinta itu indah. Jangan takut untuk merasakan cinta. Apabila cinta tlah datang di hidupmu, maka sambut lah ia dengan kehangatan* kata-kata itu yang kutuliskan di selembar karton yang sudah kutempelkan di dinding. “Rarass, ada Tania!”teriak bunda. “Iya Bun! Sebentar”aku berlari ke lantai bawah. Terlihat dari jauh Tania yang senyum-senyum nggak jelas. Tanpa basa-basi, aku menarik tangan Tania lalu mengajaknya pergi. Tania terlihat bingung. Padahal jelas-jelas Tania mau main ke rumahku bukan untuk menyusulku dan mengajakku main. Semua itu kulakukan agar Tania tidak mengetahui perasaanku terhadap Ega. Kalau Tania masuk ke kamarku, bisa MATI!
“Lo kenapa sih Ras?”tanya Tania sampai tiga kali tapi tak sekali pun kujawab. Sorry Tania!!!!

*****
Pakaian? Topi? Dasi? Udah semua. Okey, let’s GO! aku pergi ke sekolah dengan semangat. Kenapa begitu? karena hari ini hari sabtu. Dan kalian tau kan kenapa hari sabtu begitu spesial bagiku. Di gerbang sekolah, Ega sudah menyambutku, tersenyum hangat. “Ega, kok nggak beres-beres?”tanyaku basa-basi. “Udah kok, selamat ulang tahun yaa. nanti waktu semua tenda dan perkemahan udah siap, gue mau ke tenda lo. Ada sesuatu buat lo”Ega pergi meninggalkan rasa penasaran. Mulutku menganga, kaku. Aku tak menyangka kalau Ega mengingat hari ulang tahunku. Tak sabar menunggu saat itu. Kira-kira apa yang ingin Ega kasih ke aku ya? Semua itu akan terjawab nanti. Dengan pede-nya aku merasa kalau Ega akan memberikan sesuatu yang spesial untukku. “Rarass! Jangan ngelamun, ayo berangkat!”teriak kak Tejo. Aku berlari kencang. Bodohnya, semenjak Ega pergi dari hadapanku tadi rupanya aku melamun. Berangkaaaaaat!

“Ras lo bediriin tuh tenda, udah itu kumpul ke lapangan”perintah kak Agung. Aku segera melaksanakannya. Semua selesai, upacara pembukaan juga telah usai. Kini tiba saatnya, ya saatnya. Satu jam, dua jam pun berlalu, namun Ega tak kunjung datang ke tendaku. Bukan Raras namanya kalau tidak penasaran. Ega tak datang maka aku yang datang. Benar saja, ada kejutan spesial untukku saat aku tiba di tendanya. Air mata tertahan untuk beberapa saat, karena aku tak ingin terlihat lemah. Ya, aku mendapatkan Ega dan Tania sedang bermesraan di depan tenda Ega. Ega yang keburu melihatku sontak mengejarku. “Ras, dengerin gue dulu!”. “Udah Ga, cukup”aku pergi. Setelah kejadian itu, ingin rasanya kegiatan ini berakhir lebih awal.

Satu hari kemudian, kami semua anggota pramuka pulang ke rumah masing-masing. Masuk ke kamar lalu merobek karton yang kutempel beberapa hari lalu. Kuambil karton baru lalu kutuliskan satu pernyataan *nggak mau lagi kenal cinta, nggak mau pacaran!*. Yah, keputusan itu telah kuambil. Entah suatu saat akan berubah atau tidak, entahlah...

Esoknya, Ega menemuiku di kelas dan meminta maaf “Ras, maafin gue yaa sumpah gue nyesel banget”ucap Ega. Aku menepuk pundak Ega “Nggak apa-apa ini semua anggap aja pembelajaran buat kita semua. Kita masih bisa temenan kok”aku pergi. Masih sakit sebenarnya, tapi aku harus bangkit. Dari awal aku berada di dunia ini aku sudah terlahir sebagai anak tomboy dan preman. Tapi semua itu tidak melewati batas kodratku sebagai wanita. Saat ini aku lebih fokus ke ujian dan masuk SMA. Semoga aku bisa menemukan kebahagian yang lebih disana...

*****
Hari ini adalah hari pertama aku di SMA. Tak terasa yaaa? sekarang udah SMA meninggalkan masa-masa SMP. di SMA ini aku kembali tersentuh dengan kata itu. Ya, aku jatuh cinta lagi. Kali ini sama teman sekelasku. Aku yang kembali menjadi ketua kelas, selalu mencoba mendapatkan perhatiannya. Cowok itu namanya Jojo. Apa pun yang berhubungan dengan Jojo, baik itu uang kas, peer atau apalah, semua aku yang handle. Ternyata alangkah susahnya mendapatkan sedikit perhatiannya. Setiap kali aku menagih uang kas padanya, ia selalu bertanya dengan wajah heran “Kok lo sih Ras yang nagih?”. “Nggak papa, pokoknya apa pun tentang lo itu harus gue yang handle”jawab gue. Sampai-sampai aku rela mengikutinya pulang sedangkan arah rumahku berlawanan dengan arah rumahnya. Aku merelakan uang jajanku berkurang hanya untuk biaya ongkos yang dobel, karena bolak-balik. Jojo tetap tidak menyadari kehadiranku di bis itu. Tapi tak apalah, yang penting bisa terus melihatnya.

Beberapa bulan kemudian, Jojo mulai menyadari kehadiranku di bis. Jojo menghampiriku lalu bertanya “Ras, setiap hari kayaknya lo naik bis yang sama ya sama gue? Emang lo mau kemana sih? Bukannya rumah lo berlawanan arah ya?”. Pertanyaan sulit ibarat di dalam permainan catur itu namanya SKAK MAT!. “Emmm, gue emang mampir ke rumah sodara gue dulu deket gang rumah lo. Kenapa ya Jo?”. “Oh nggak papa, Cuma mau ngajak bareng aja kalo lo hari ini mau kesana lagi”. “Mau!”jawab gue semangat.

Jam pulang tiba, aku dan Jojo segera naik bis. Saat sampai di depan gang Jojo, aku bingung bukan main. Gimana ini? Aku kan nggak punya saudara sama sekali disini. Terfikir satu ide cemerlang “Jo, Tante gue belum pulang, gimana kalo gue ke rumah lo dulu”. “Oh yaudah”balas Jojo. Hatiku berasa terbang melayang jauh nan tinggi. KLIK!
Setelah hari itu, aku semakin dekat dengan jojo. Namun, kedekatan kami tak berarti apa-apa bagi Jojo. Jojo tak kunjung menyatakan cinta padaku hingga kami lulus SMA. Mungkin ini karma, karena waktu SMP aku pernah melukai hati salah satu temanku. Aku menolak cintanya di muka umum. Tapi aku benar-benar tak bermaksud. Saat itu aku sedang galau, karena Ega. Yah sudahlah itu masa lalu. Jojo hilang kabar setelah kami lulus SMA. Tak ada satu teman pun yang mengetahui keberadaan Jojo. *Cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan* kata-kata itu yang dapat kuambil saat itu.

*****
Saat kuliah, aku tak memikirkan lagi soal cinta. Aku lebih fokus ke pelajaran dan segera lulus lalu mendapatkan pekerjaan. Empat tahun kemudian, aku lulus. Di umurku yang sudah cukup matang, aku memutuskan ingin segera berkeluarga. Aku mengenal seorang lelaki yang cukup baik dan kami hanya berkenalan tidak melalui proses pacaran. Namanya Gilang, anak yang baik dan santun. Tanpa menunggu waktu yang lama, kami memutuskan untuk menikah dan membina rumah tangga. Alhamdulillah, semoga ini pilihan yang tepat. Setelah semua siap, kami tinggal menunggu hari. Besok, akad nikah akan dilaksanakan, dan aku akan menjadi milik Gilang seutuhnya. Nervous tak terhindarkan. Keluarga dan tetangga sedang sibuk di dapur. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kuangkat handphone “Halo ini siapa ya?”tanyaku. “ini Rarass?”. “Iya, ini siapa?”. “Aku Jojo Rass, kamu apa kabar?”. Aku tercengang. Bagaimana mungkin Jojo kembali saat aku sudah memiliki Gilang?. “Rass....?”. “Eh Iya Jo, alhamdulillah baik. Kamu gimana? Sekarang kamu dimana?”. “Aku juga baik. Aku di Jakarta. Besok aku pulang, aku ingin kenal keluarga besar kamu lebih dekat dan aku akan bawa kamu ke orang tua aku. Boleh kan?”. Aku terdiam, kaku. Tiba-tiba Gilang menghampiriku “Siapa yang nelfon Ras?”. “E..eee..temen”jawabku. setelah Gilang pergi, aku kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Jojo. “Rass, tadi ada suara cowok, dia siapa?”. “Saudara aku lagi ada acara di rumah”. Aku benar-benar dilema. Satu sisi aku masih mencintai dan berharap pada Jojo, tapi itu masa lalu dan di sisi lain aku punya masa depan, Gilang. Setelah pembicaraan kami berakhir, aku terdiam di kamar memikirkan keputusan apa yang akan kuambil. Setelah kutimbang-timbang, Gilang yang akan kupilih untuk membina rumah tangga bersamaku. Malam itu juga kutelfon Jojo dan memberitahukan semuanya “Jo, sebenarnya di rumahku ada acara persiapan pernikahan aku besok”. Jojo terdiam beberapa saat “Kamu kok gitu sih? Padahal, besok aku mau ke rumah kamu”. “Maaf Jo, tapi kamu itu masa lalu aku dan kenapa kamu nggak ngasih kepastian ke aku. Semua itu membuat aku bingung! Aku aja nggak tau kamu ada dimana”. Jojo memutuskan pembicaraan kami dengan mematikan telefon. Aku paham, Jojo pasti kecewa padaku. Tapi ini keputusanku! Gilang masa depanku, bukan Jojo. Walau sedikit rasa masih tertinggal...

*****
Saat ini, aku sudah memasuki usia kepala tiga. Aku memiliki dua buah hati bersama Gilang. Kini aku benar-benar tersentuh cinta, cinta sejati, cinta yang abadi. Kebahagian terus kami dapatkan dan sekarang Gilang bekerja di luar kota. Walau begitu, komunikasi tetap terjalin. Aku bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di salah satu SMA swasta ternama di kotaku. Bersyukur, karena cinta-citaku tercapai. Biarlah semua pengalaman menjadi pembelajaran untuk diriku di kemudian hari. Sesekali aku mengingat masa lalu yang indah, aku tertawa. Sesekali mengingat masa lalu yang sedih, aku menangis. Terkadang saat mengingat masa lalu, ingin rasanya aku kembali ke masa itu. SMP, SMA terutama masa-masa bersama Jojo. Tapi semua itu...masa lalu.

*Kebahagian sejati kita dapatkan disaat kita menatap masa depan dan mensyukuri apa yang ada di hadapan kita bukan menoleh ke belakang atau tenggelam di masa lalu*

'avl'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar