
Glitter Text Maker - eCards
“Teringat tentang masa lalu dan ingin rasanya aku
kembali”
Aku Fathiya Farastrika atau biasa dipanggil Raras.
Saat ini usiaku sudah menginjak *sensor* tahun. Simpan semua identitasku saat
ini di akhir cerita. Aku ingin menceritakan pengalaman hidupku di waktu lampau.
Saat aku masih kanak – kanak, saat aku masih SD, saat aku masih SMP, saat aku
masih SMA lebih tepatnya saat diriku tersentuh dan mulai mengenal satu kata
yang aku pun tak terlalu paham makna kata tersebut. Aku terserang kata ‘CINTA’
. mungkin bagi kalian, kata tersebut sudah biasa. Tapi bagiku, kata itu sungguh
memiliki makna yang sangat dalam. Maka dari itu, aku sangat ingin menjadi guru
bahasa Indonesia, karena aku bisa membuat satu kata menjadi seribu makna. Sesuatu
yang tak kumengerti, mengapa cinta harus datang dalam hidupku?
*****
“Ras, selamat ya! lo berhasil jadi ketua
kelas”ucap Tania, teman sebangku di SMP. aku hanya membalas dengan senyuman.
Ini adalah kisah saat aku SMP. disinilah aku mulai mengenal satu kata yang
sudah kusebutkan tadi, cinta. Cinta pertamaku berawal saat aku masuk eskul
pramuka. Aku dan Ega (cowok yang aku sir), kami berdua sangat akrab. Awalnya,
aku menganggap hubungan kami hanya sebatas teman. Tapi, hari berganti hari,
bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun aku merasakan sesuatu yang
berbeda ketika aku bertemu dengan Ega. Tepatnya hari itu, saat eskul sedang
kumpul untuk membicarakan persami (perkemahan sabtu-minggu). Tak seperti
biasanya, ketika Ega menghampiriku, jantungku berdebar kencang. Oh Tuhan,
apakah ini yang namanya cinta? Aku benar-benar bingung dengan rasa ini. Kami
sudah cukup lama berteman, tapi kenapa rasa ini baru muncul sekarang? beribu
pertanyaan dan ketakutan-ketakutan berhamburan di dalam otakku. Sampai-sampai
aku nyuekin Ega. Ega yang sudah terlihat kesal saat itu melambaikan tangannya
di depan wajahku. “Ras? lo dengerin gue nggak sih?”. “Eeee’ denger kok Ga,
hehe”aku tertawa kecil. “Emang gue ngomong apa tadi?”tanya Ega. Mampus, celaka
13! mana aku sama sekali nggak denger apa yang Ega bicarain. “Ehmm, tentang
perkemahan kan?”jawabku sembari garuk-garuk kepala karena bingung mau jawab
apa. Ega tertawa “Haha ngaco banget sih lo! Gue itu nggak ngomong apa-apa kali.
Dasar Rarass”Ega mengelus kepalaku. Tersenyum, lebar sekali. Baru kali ini aku
merasa senaaang saat Ega mengelus kepalaku. Padahal ini bukan kali pertama Ega
memperlakukanku seperti itu.
Aku pulang ke rumah, seperti biasa dengan
kendaraan termurah di dunia, jalan kaki. Saat itu, kendaraan umum masih sangat jarang.
Tak sabar rasanya menunggu hari sabtu. Sesampainya di rumah, aku langsung masuk
ke kamar lalu menulis di karton yang kemudian kutempelkan di dinding kamarku.
*cinta, cinta itu indah. Jangan takut untuk merasakan cinta. Apabila cinta tlah
datang di hidupmu, maka sambut lah ia dengan kehangatan* kata-kata itu yang
kutuliskan di selembar karton yang sudah kutempelkan di dinding. “Rarass, ada
Tania!”teriak bunda. “Iya Bun! Sebentar”aku berlari ke lantai bawah. Terlihat dari
jauh Tania yang senyum-senyum nggak jelas. Tanpa basa-basi, aku menarik tangan
Tania lalu mengajaknya pergi. Tania terlihat bingung. Padahal jelas-jelas Tania
mau main ke rumahku bukan untuk menyusulku dan mengajakku main. Semua itu
kulakukan agar Tania tidak mengetahui perasaanku terhadap Ega. Kalau Tania
masuk ke kamarku, bisa MATI!
“Lo kenapa sih Ras?”tanya Tania sampai tiga kali
tapi tak sekali pun kujawab. Sorry Tania!!!!
*****
Pakaian? Topi? Dasi? Udah semua. Okey, let’s GO!
aku pergi ke sekolah dengan semangat. Kenapa begitu? karena hari ini hari
sabtu. Dan kalian tau kan kenapa hari sabtu begitu spesial bagiku. Di gerbang
sekolah, Ega sudah menyambutku, tersenyum hangat. “Ega, kok nggak
beres-beres?”tanyaku basa-basi. “Udah kok, selamat ulang tahun yaa. nanti waktu
semua tenda dan perkemahan udah siap, gue mau ke tenda lo. Ada sesuatu buat
lo”Ega pergi meninggalkan rasa penasaran. Mulutku menganga, kaku. Aku tak
menyangka kalau Ega mengingat hari ulang tahunku. Tak sabar menunggu saat itu.
Kira-kira apa yang ingin Ega kasih ke aku ya? Semua itu akan terjawab nanti.
Dengan pede-nya aku merasa kalau Ega akan memberikan sesuatu yang spesial
untukku. “Rarass! Jangan ngelamun, ayo berangkat!”teriak kak Tejo. Aku berlari
kencang. Bodohnya, semenjak Ega pergi dari hadapanku tadi rupanya aku melamun.
Berangkaaaaaat!
“Ras lo bediriin tuh tenda, udah itu kumpul ke
lapangan”perintah kak Agung. Aku segera melaksanakannya. Semua selesai, upacara
pembukaan juga telah usai. Kini tiba saatnya, ya saatnya. Satu jam, dua jam pun
berlalu, namun Ega tak kunjung datang ke tendaku. Bukan Raras namanya kalau
tidak penasaran. Ega tak datang maka aku yang datang. Benar saja, ada kejutan
spesial untukku saat aku tiba di tendanya. Air mata tertahan untuk beberapa
saat, karena aku tak ingin terlihat lemah. Ya, aku mendapatkan Ega dan Tania
sedang bermesraan di depan tenda Ega. Ega yang keburu melihatku sontak
mengejarku. “Ras, dengerin gue dulu!”. “Udah Ga, cukup”aku pergi. Setelah
kejadian itu, ingin rasanya kegiatan ini berakhir lebih awal.
Satu hari kemudian, kami semua anggota pramuka
pulang ke rumah masing-masing. Masuk ke kamar lalu merobek karton yang kutempel
beberapa hari lalu. Kuambil karton baru lalu kutuliskan satu pernyataan *nggak
mau lagi kenal cinta, nggak mau pacaran!*. Yah, keputusan itu telah kuambil.
Entah suatu saat akan berubah atau tidak, entahlah...
Esoknya, Ega menemuiku di kelas dan meminta maaf
“Ras, maafin gue yaa sumpah gue nyesel banget”ucap Ega. Aku menepuk pundak Ega
“Nggak apa-apa ini semua anggap aja pembelajaran buat kita semua. Kita masih
bisa temenan kok”aku pergi. Masih sakit sebenarnya, tapi aku harus bangkit.
Dari awal aku berada di dunia ini aku sudah terlahir sebagai anak tomboy dan
preman. Tapi semua itu tidak melewati batas kodratku sebagai wanita. Saat ini
aku lebih fokus ke ujian dan masuk SMA. Semoga aku bisa menemukan kebahagian
yang lebih disana...
*****
Hari ini adalah hari pertama aku di SMA. Tak
terasa yaaa? sekarang udah SMA meninggalkan masa-masa SMP. di SMA ini aku
kembali tersentuh dengan kata itu. Ya, aku jatuh cinta lagi. Kali ini sama
teman sekelasku. Aku yang kembali menjadi ketua kelas, selalu mencoba
mendapatkan perhatiannya. Cowok itu namanya Jojo. Apa pun yang berhubungan
dengan Jojo, baik itu uang kas, peer atau apalah, semua aku yang handle. Ternyata
alangkah susahnya mendapatkan sedikit perhatiannya. Setiap kali aku menagih
uang kas padanya, ia selalu bertanya dengan wajah heran “Kok lo sih Ras yang
nagih?”. “Nggak papa, pokoknya apa pun tentang lo itu harus gue yang
handle”jawab gue. Sampai-sampai aku rela mengikutinya pulang sedangkan arah
rumahku berlawanan dengan arah rumahnya. Aku merelakan uang jajanku berkurang
hanya untuk biaya ongkos yang dobel, karena bolak-balik. Jojo tetap tidak
menyadari kehadiranku di bis itu. Tapi tak apalah, yang penting bisa terus
melihatnya.
Beberapa bulan kemudian, Jojo mulai menyadari
kehadiranku di bis. Jojo menghampiriku lalu bertanya “Ras, setiap hari kayaknya
lo naik bis yang sama ya sama gue? Emang lo mau kemana sih? Bukannya rumah lo
berlawanan arah ya?”. Pertanyaan sulit ibarat di dalam permainan catur itu
namanya SKAK MAT!. “Emmm, gue emang mampir ke rumah sodara gue dulu deket gang
rumah lo. Kenapa ya Jo?”. “Oh nggak papa, Cuma mau ngajak bareng aja kalo lo
hari ini mau kesana lagi”. “Mau!”jawab gue semangat.
Jam pulang tiba, aku dan Jojo segera naik bis.
Saat sampai di depan gang Jojo, aku bingung bukan main. Gimana ini? Aku kan
nggak punya saudara sama sekali disini. Terfikir satu ide cemerlang “Jo, Tante
gue belum pulang, gimana kalo gue ke rumah lo dulu”. “Oh yaudah”balas Jojo.
Hatiku berasa terbang melayang jauh nan tinggi. KLIK!
Setelah hari itu, aku semakin dekat dengan jojo.
Namun, kedekatan kami tak berarti apa-apa bagi Jojo. Jojo tak kunjung
menyatakan cinta padaku hingga kami lulus SMA. Mungkin ini karma, karena waktu
SMP aku pernah melukai hati salah satu temanku. Aku menolak cintanya di muka
umum. Tapi aku benar-benar tak bermaksud. Saat itu aku sedang galau, karena
Ega. Yah sudahlah itu masa lalu. Jojo hilang kabar setelah kami lulus SMA. Tak
ada satu teman pun yang mengetahui keberadaan Jojo. *Cinta yang bertepuk
sebelah tangan itu sangat menyakitkan* kata-kata itu yang dapat kuambil saat
itu.
*****
Saat kuliah, aku tak memikirkan lagi soal cinta.
Aku lebih fokus ke pelajaran dan segera lulus lalu mendapatkan pekerjaan. Empat
tahun kemudian, aku lulus. Di umurku yang sudah cukup matang, aku memutuskan
ingin segera berkeluarga. Aku mengenal seorang lelaki yang cukup baik dan kami
hanya berkenalan tidak melalui proses pacaran. Namanya Gilang, anak yang baik
dan santun. Tanpa menunggu waktu yang lama, kami memutuskan untuk menikah dan
membina rumah tangga. Alhamdulillah, semoga ini pilihan yang tepat. Setelah
semua siap, kami tinggal menunggu hari. Besok, akad nikah akan dilaksanakan,
dan aku akan menjadi milik Gilang seutuhnya. Nervous tak terhindarkan. Keluarga
dan tetangga sedang sibuk di dapur. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Kuangkat
handphone “Halo ini siapa ya?”tanyaku. “ini Rarass?”. “Iya, ini siapa?”. “Aku
Jojo Rass, kamu apa kabar?”. Aku tercengang. Bagaimana mungkin Jojo kembali
saat aku sudah memiliki Gilang?. “Rass....?”. “Eh Iya Jo, alhamdulillah baik.
Kamu gimana? Sekarang kamu dimana?”. “Aku juga baik. Aku di Jakarta. Besok aku
pulang, aku ingin kenal keluarga besar kamu lebih dekat dan aku akan bawa kamu
ke orang tua aku. Boleh kan?”. Aku terdiam, kaku. Tiba-tiba Gilang
menghampiriku “Siapa yang nelfon Ras?”. “E..eee..temen”jawabku. setelah Gilang
pergi, aku kembali melanjutkan pembicaraanku dengan Jojo. “Rass, tadi ada suara
cowok, dia siapa?”. “Saudara aku lagi ada acara di rumah”. Aku benar-benar
dilema. Satu sisi aku masih mencintai dan berharap pada Jojo, tapi itu masa
lalu dan di sisi lain aku punya masa depan, Gilang. Setelah pembicaraan kami
berakhir, aku terdiam di kamar memikirkan keputusan apa yang akan kuambil.
Setelah kutimbang-timbang, Gilang yang akan kupilih untuk membina rumah tangga
bersamaku. Malam itu juga kutelfon Jojo dan memberitahukan semuanya “Jo,
sebenarnya di rumahku ada acara persiapan pernikahan aku besok”. Jojo terdiam
beberapa saat “Kamu kok gitu sih? Padahal, besok aku mau ke rumah kamu”. “Maaf
Jo, tapi kamu itu masa lalu aku dan kenapa kamu nggak ngasih kepastian ke aku.
Semua itu membuat aku bingung! Aku aja nggak tau kamu ada dimana”. Jojo
memutuskan pembicaraan kami dengan mematikan telefon. Aku paham, Jojo pasti
kecewa padaku. Tapi ini keputusanku! Gilang masa depanku, bukan Jojo. Walau
sedikit rasa masih tertinggal...
*****
Saat ini, aku sudah memasuki usia kepala tiga. Aku
memiliki dua buah hati bersama Gilang. Kini aku benar-benar tersentuh cinta,
cinta sejati, cinta yang abadi. Kebahagian terus kami dapatkan dan sekarang
Gilang bekerja di luar kota. Walau begitu, komunikasi tetap terjalin. Aku
bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di salah satu SMA swasta ternama di
kotaku. Bersyukur, karena cinta-citaku tercapai. Biarlah semua pengalaman
menjadi pembelajaran untuk diriku di kemudian hari. Sesekali aku mengingat masa
lalu yang indah, aku tertawa. Sesekali mengingat masa lalu yang sedih, aku
menangis. Terkadang saat mengingat masa lalu, ingin rasanya aku kembali ke masa
itu. SMP, SMA terutama masa-masa bersama Jojo. Tapi semua itu...masa lalu.
*Kebahagian sejati kita dapatkan disaat kita
menatap masa depan dan mensyukuri apa yang ada di hadapan kita bukan menoleh ke
belakang atau tenggelam di masa lalu*
'avl'


Tidak ada komentar:
Posting Komentar