Minggu, 14 November 2010

muka galau




PROLOG  ----
crosstu autiss yang udah naek pangkat siang itu webcam-an. menggila bersama ...
TAMAT ---

Sebenernya bukan itu intinya. Disini gua Cuma mau promosiin jomblogalauerss lagi. Boleh nggak ? boleh kan ? boleh dong? Nggak mungkin nggak boleh. Pasti boleh kan? Nggak mungkin lo selingkuh !!! (?) udahlah CHECK THIS OUT langsung aja kali yeee -__-



MUKA GALAU


















UNCON
















to be continue ... INSYAALLAH ^^

Sabtu, 13 November 2010

outdoor study with crosstu 1 :)



NUMPANG EKSIS ^^
para pemirsaa yang baik budinya....saya mau numpang promosiin temen-temen saya yang cantieeeuuuqqqq *alay* jelita dan Tambbbbphhhaaaan rupawan wkwkwk
AYO! segera diburu bagi jomblowan, jomblowati sampai jomblongenesss (?)
alaaah, daripada makin gaje mending langsung ChEcK ThiS OuT *belajarngalay*


First, Foto ini diambil di tempat foto terkeren sepanjang sejarah, ANGKOT

















terus, ini pas udah nyampe di dermaga apa yaaa ? lupa lah. intinya ini poto sama kakak-kakak angkatan  laut u.u







photo with mr. ERSON






Ini cowok-cowok CROSSTU yang cerrybell-cerrybell gimana gitu *kidding*











Nah, ini foto cewek-cewek CROSSTU











ada jugak yang gokil, namanya o**l (cowok), klo dipoto ketakutan setengah idup. :-D
entah dia risih, atau bingung yang jelas muka dia pucet dan tanpa ekspresi #maaf ya
yah, pokoknya hanya mr o**l dan Allah yang taw alasannya wkwkwkwk...








and the last, wali kelas kami yang selalu setia mendampingi. yaitu "ABI MISBAH"







yahh, itulah seputar perjalanan outdoor study with crosstu ..
asyik, tapi cukup MELELAHKAN.
tapi kami mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan...

^tengs for reading.... :) :) :)





*avl*



Jumat, 27 Agustus 2010

raputasi atau cinta ???

Sedan merah mengantarkan gue menuju ke sekolah pagi ini. Dengan mantap gue turun dari mobil. Dari jauh sudah terlihat sobat gue di sekolah, Fanya. Mukanya yang ngeselin tapi bikin gemes tersenyum cerah ke arah gue seolah-olah udah lama banget nunggu. Gue menghampiri Fanya yang masih senyum-senyum ke gue.
“Ngapa lo?”tanya gue spontan.
“Gue kagum sama lo jean, udah cantik, pinter, ratu sekolah, kapten cheers, anggota osis, model. Sampai-sampai baju lo nggak muat nampung atribut penghargaan lo! Udah itu lo dapet pacar sepopuler Daniel lagi!”.
Gue mengabaikan semua yang dikatakan Fanya, karena sesungguhnya gue nggak bahagia dengan semua ini. Gue akui, Daniel populer dan semua cewek di sekolah ini tergila-gila dengannya. Tapi, sebenernya gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia! Gue jadian karena terpaksa. Karena tuntutan dari gelar gue,ratu sekolah dan juga model. sesungguhnya Gue suka sama seseorang yang menurut temen-temen gue biasa aja malah biasa banget! Dia cuma anak rohis yang nggak populer. Tapi, entah kenapa gue bisa jatuh cinta sama dia. Namanya Yudha, pendiem dan jago matematika. Gue udah berusaha ngelupain perasaan gue, tapi semakin hari semakin kuat. Semua cowok sok aktiv sama gue! Tapi kalo Yudha, dia cuek banget. Kenapa hal ini mesti terjadi sama gue?.
Bisa aja, gue ngomong langsung sama Yudha kalo gue suka dia. Tapi, gimana dengan reputasi gue? Gimana kalo semua orang tau gue (ratu sekolah) suka sama Yudha? Mereka pasti protes dan mencabut semua gelar dari diri gue. Apalagi karir gue yang baru gue rintis setahun belakangan, menuntut gue untuk pacaran sama cowok oke. Syarat itu sama sekali nggak ada di diri Yudha! Gue nggak mau karir dan gelar-gelar yang udah gue raih susah payah, hilang begitu aja! Tapi..Yudha....
“Jean? Lo denger nggak sih yang gue omongin?”.
“Eh iya, sorry Fan! Udah yuk kita masuk”.
Ya Tuhan, bisa-bisanya gue nyuekin Fanya! Untung dia nggak curiga.
Selama pelajaran gue masih mikirin masalah tadi. Gue mau nyari jalan keluarnya, tapi sama siapa? Nggak ada orang yang tepat untuk gue ajak sharing.

TENG----TENG----TENG
“Jean? Lo ngelamun lagi? Udah pulang tau!”Fanya menyadarkan lamunan gue.
“Siapa yang ngelamun?”gue memeletkan lidah kemudian pergi.
Gue berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu Pak Dadang. 5 menit, 10 menit sampai 15 menit kemudian Pak Dadang tak urung datang. Gue udah mulai bete dan capek.
“Mana sih Pak Dadang?”keluh gue dalam hati. Tiba-tiba sebuah motor matic berhenti di hadapan gue. Gue masih menebak-nebak siapa pengandara motor itu. Apa dia Daniel? Nggak mungkin deh! Daniel kan anti banget sama motor kalo panas gini. Siapa ya? Cowok itu membuka helmnya dan tersenyum ke gue. Oh My God! Yudha? Gimana mungkin dia bisa senyum ke gue?
“Lagi nunggu ya?”.
Gue speechless and mati gaya. Yudha melambaikan tangannya di depan muka gue.
“Eh i..iya. lo belum pulang?”.
“Belum. Udah sore ni! Mau gue anterin nggak? Tenang aja,udah sepi kok! Jadi nggak ada yang liat kalo lo dianter sama cowok aneh kayak gue”.
“Ehm..gimana ya? Ya udah deh”.
Gue naik ke jok motornya Yudha. Dengan kilat gue sms Pak Dadang untuk ngbatalin jemput gue. Bodo amat kalo Pak Dadang udah di jalan, suruh siapa lama?. Ya Tuhan...baru kali ini gue sapaan sama cowok yang gue cinta. Kenapa cewek-cewek di sekolah nggak bisa liat karisma dalam diri Yudha ya? Jantung gue serasa dangdutan. Bego! Sampai-sampai gue nggak nyadar kalo udah sampai. Duh...malunya... o_O
“Makasih ya Yud!”.
Yudha hanya tersenyum kemudian berlalu dari hadapan gue. Gue berlari ke kamar dan seperti biasa, gue mengkhayal kayak orang bego! Gue anggap ini sebagai awal dari kisah cinta gue. Pokoknya gue nggak akan lupain kejadian ini..
“Kringg....”. gue bangun lalu bersiap-siap ke sekolah. Aduh, gara-gara mengkhayal semalam ni! Gue jadi ngantuk banget. Mana ada pelajaran Bahasa Indonesia! Semoga aja deh Pak Jono moodnya lagi bagus. Gue sms Daniel untuk jemput gue, soalnya Pak Dadang nggak masuk! Ngambek kali gara-gara kemaren gue tinggal. Suara klakson berdengung di telinga gue. Pasti itu mobil Daniel! Gue pamitan and keluar menghampiri Daniel my boyfriend.
“Hai sayang! Kok tumben kamu minta jemput aku?”.
“Maaf ya! Soalnya Pak Dadang ngambek”.
“Kok gitu?”.
“Udahlah nggak usah dibahas”. Daniel hanya tersenyum kecil. Mobil berjalan menuju sekolah. Begitu melewati parkiran sekolah, gue ngeliat Yudha seperti biasa dengan motor maticnya. Tiba-tiba, Daniel nge-gas mobilnya melewati kubangan air dan air itu mengenai seluruh badan Yudha. Gue spontan menampar Daniel. Daniel yang tadinya tertawa lebar langsung shock.
“Kamu gila ya? Kamu nggak kasihan apa? Jahat kamu!”gue turun lalu menghampiri Yudha yang masih membersihkan noda.
Napas gue terengah-engah. Yudha menaikan kepalanya, tersenyum. Gila ya! Yudha sama sekali nggak marah sama Daniel? Lo emang malaikat Yud.
“Jean? ngapain turun? Gue nggak pa-pa kok!”.
“Lo nggak dendam sama Daniel?”.
“Ngapain harus dendam. Toh, dendam nggak menyelesaikan masalah. Udah sana, lo masuk! Nanti kalo ada yang liat kita berduaan, bisa bahaya”.
satu kata yang bisa gua ambil, HEBAT !

skip ---

Gue berjalan ke kelas dengan bangga bercampur sedih. Gara-gara tuntutan profesi dan popularitas, Yudha jadi minder. Emang susah mau jadi orang nomer satu, harus bisa sombong, bisa menomerduakan perasaan dan kebahagiaan. Pelajaran dimulai, gue melirik ke arah Yudha. Dia kuyup dan kotor. Gue ingin berontak,tapi nggak bisa. Pak Jono masuk kelas kemudian membahas tentang kerja kelompok untuk turun ke lapangan mewawancarai narasumber yang memiliki profesi petani dan nelayan.
“Anak-anak, langsung saja Bapak bagi kelompok! Kelompok satu: Vita dan Amel, kelompok dua: Daniel dan Fito. Kelompok tiga: Fanya dan Wanda. Kelompok empat: Jeany dan Yudha...”.
Gue seneng banget! Dengan begitu gue bisa ngabisin waktu sama Yudha dan kerja kelompok bisa gue jadiin alasan buat Fanya dan Daniel. Fanya terlihat kecewa karena nggak satu kelompok dengan gue. Tapi masa bodo deh! Yang penting gue happy. "Sorry ya Fan"ucap gue dalam hati.
Waktu istirahat, Yudha menuju ke meja gue. Jantung gue berdegup kencang.
“Jean, kira-kira kapan kita mau buat tugas kelompok?”tanya Yudha.
“Seneng lo ya, dapet kelompok sama Jean. Tapi awas lo berani dekatin Jean! Gue nggak rela, karena lo nggak pentes buat dia”samber Fanya kayak petir.
“Udah deh Fan, ini juga cuma kerja kelompok. Dan siapa bilang Yudha nggak pantes buat gue? Hmm, besok boleh Yud! Lo ke rumah gue aja ya”.
“Ok!”.

skip ---

Akhirnya sampai juga di rumah. Gue berlari ke kamar dan melihat jadwal pemotretan gue. Untung aja besok nggak ada! Gue mengamati lambang gelar-gelar gue yang terpampang di dinding dan baju osis gue.Gelar ratu sekolah, kapten cheers, model majalah dan bintang iklan, gadis sampul. Ya Tuhan, apa rela gue ngelepas semua ini demi Yudha. Kalo masalah ratu sekolah, cheers dan yang lainnya gue terima. Tapi kalo karir gue di model? Gue rasa gue belum rela.
Esoknya, Yudha ke rumah gue sesuai janji. Gue menyambutnya dengan senyum sejenak, kemudian menyeretnya keluar dan menarik masuk ke mobil.
“Jean! Lo kenapa?”.
“Udahlah, ikut aja. Bawel amat!”.
Gue starter mobil dan langsung cabut. Nggak peduli sama kaos oblong dan celana pendek juga rol di pony bulan gue. Gue menuju ke mall terdekat untuk mencari barang-barang tugas sekalian jalan-jalan! Hehe..
Gue and Yudha menuju ke tempat elektronik. Gue suruh Yudha yang milih peralatannya. pasalnya Gue nggak ngerti sama sekali. “Ini aja deh kayaknya Jean! Tapi harganya mahal banget. Kualitasnya sih nggak diragukan lagi”.
“Ya udah nggak pa-pa. Udah? Sini gue bayar”.
“Ta..tapi Jean..”.
Gue menarik tangan Yudha menuju ke kasir. Setelah itu, kita pergi ke kedai es-krim. Kali ini Yudha yang traktir gue. Yudha memang cowok baik. Disaat gue ketawa-ketiwi, Yudha tersenyum lalu.. “Sorry Jean”Yudha mengusap es-krim yang blepotan di bibir gue. Gue terdiam sejenak, kemudian kembali seperti biasa. Setelah hari itu berakhir, gue makin dekat sama Yudha dengan alasan kerja kelompok. Perasaan gue ke dia makin menguat. Model tetap jalan, Daniel tetap jadi pacar terpaksa gue, Fanya masih terus-terusan wanti-wanti gue supaya nggak kecantol sama Yudha, karena nggak level. Padahal, belum tau aja dia! Gue udah lama banget kecantol sama Yudha, dari kelas satu. Entah angin dari mana, Daniel menghampiri gue yang lagi sama Fanya dengan terburu-buru dan menggebu-gebu.
“Jean, semenjak si kampung itu dekat-dekat sama kamu, aku jadi jarang kamu perhatiin!”bentak Daniel.
“Kamu kan tau aku itu kerja kelompok sama Yudha”.
“Oke, kalo kamu maunya kayak gitu, sekarang kamu pilih, Aku atau anak kampung itu?”.
Jelas gue milih Yudha lah! Ucap gue dalam hati. Gue pergi tanpa jawaban.

SATU MINGGU KEMUDIAN...
Tugas itu akhirnya selesai. Kelompok gue mendapat hasil terbaik dari beberapa kelas yang mendapat tugas sama. Gue seneng banget! Nggak sia-sia semuanya. Tapi, kesenangan itu hanya sesaat. Hape gue berbunyi dan saat gue angkat, ternyata dari manager gue. Dia menyampaikan berita yang nggak gue duga. Katanya, terbit gosip gue dan Yudha. Saat gue menemui manager gue, dia menunjukan semua foto-foto itu. Astaga! Foto Yudha lagi mengusap es-krim waktu itu. Dan sialnya! Di majalah udah terbit gosip ini. Manager gue juga bilang kalo dia nggak tau siapa yang buat gosip ini. Gue tertunduk lemas. Gue nggak mungkin ngelepas karir dan juga Yudha. Manager gue mengerutkan dahi.
“Jean sayang, mbak ngerti banget perasaan kamu. Dan asal kamu tau, kami cuma menuntut pacar kamu selalu terlihat ok di TV alias hanya penampilannya. Kalo masalah status itu nggak penting. Mbak harap, kamu tau apa yang harus kamu lakukan”Manager gue berlalu.
Yudha kan ganteng banget. Dia itu cuma kurang harta dan popularitas doang. Berarti gue masih bisa berkarir dengan Yudha. Yes!.
Esoknya gue ke sekolah. Bener aja, di mading udah tertempel gosip itu. Gue menemui Yudha. Tapi, apa yang gue dapat? Yudha udah pindah dari kemarin. Ya Tuhan! Gue terlambat. gue pulang, dan hanya bisa merenungi keadaan. Semua ini gara-gara gue yang plin-plan. Gue nggak tegas dalam mengambil keputusan. Daniel datang ke rumah gue disaat nggak tepat.
“Sayang, buat apa kamu mikirin Yudha? Biar aja dia tau rasa atas gosip dan ancaman yang aku buat”.
Gue menoleh tajam “Apa? Jadi kamu yang ngancem dia? Dan gosip itu?”gue menampar Daniel dan berlari kamar untuk mengambil kontak mobil. Daniel berusaha mengejar dan menahan tangan gue.
“Lepas!”teriak gue.
“Aku tegasin, kamu pilih cowok kampung itu atau reputasi dan popularitas kamu?”.
“Aku pilih Yudha! Puas kamu”.
Gue pergi meninggalkan Daniel. Di luar, Fanya menjegat gue.
“Lo yakin mau ngelepasin semua gelar juga reputasi lo? Gue rasa lo nggak sanggup!”.
“Siapa bilang gue nggak bisa? Lihat ini! Makan sama lo” gue mencabut semua atribut di baju osis gue lalu melemparkannya ke Fanya. Fanya terpaku.
Gue menelfon Angga, sobatnya Yudha. Dan Angga bilang, Yudha berangkat ke luar kota sore ini sekitar jam lima. Gue melirik ke arah jam tangan. Yah, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi. Stasiun nggak jauh. Segera gue ke stasiun dan berharap Yudha belum pergi untuk selamanya meninggalkan gue. Akhirnya sampai juga, gue berlari mencoba mencari keberadaan Yudha. Putus asa, akhirnya gue ke resepsionis untuk menanyakan jadwal kereta ke Semarang.
“Lima menit lagi kereta jurusan semarang akan berangkat”.
Gue berlari dengan nafas terengah-engah. Dari kejauhan langkah gue terhenti melihat separuh badan Yudha telah masuk ke dalam kereta. Dengan nafas pendek gue berteriak sekuat tenaga.
“Yudha.....................!!”.
Gue tertunduk lemas. Suara bel kereta udah berbunyi. Gue berbalik arah menuju ke parkiran dengan kepala masih tertunduk. Tiba-tiba langkah gue terhenti, karena ada seseorang dihadapan gue. Gue menaikkan kepala. Ya Tuhan..., ternyata itu?
“Yudha?”gue sontak memeluk Yudha.
“Lo ngapain kesini?”.
“Lo nggak jadi pergi?”gue melepas pelukan Yudha.
“Siapa yang mau pergi? Gue cuma nganterin Bunda sama Adik gue kok!”.
“Terus...lo kenapa pindah?”.
“Gue takut ganggu hubungan lo sama Daniel”.
“Yudha, sekarang gue mau bilang sama lo kalo gue cinta banget sama lo! Gue udah jatuh cinta sama lo dari pertama gue ketemu lo! Lo mau nggak terima gue?”.
“Tapi...,gimana dengan...?”
“Karir? Tenang aja semua udah beres. Kalo Daniel dan reputasi? Itu nggak penting. Yang penting gue bahagia”.
“Lo serius. Kalo gue boleh jujur, gue emang udah ada feel sama lo dari lama. Gue nggak mungkin nolak cewek sebaik lo dan secantik lo”.
Gue tersenyum kemudian memeluk Yudha lagi. “Makasih ya Yud!”.
Pelukan gue terlepas saat tiba-tiba wartawan mengelilingi gue. Gila! Tau aja nih wartawan..., padahal gue kan nggak ngasih tau. So, kita semua mencari tempat yang enak buat wawancara.
“Mbak Jean, apa mbak sudah putus dengan Daniel Saputra? Apa mbak rela melepas reputasi mbak karena pisah dengan Daniel? Dan siapa cowok yang berada di samping mbak?”tanya salah seorang wartawan.
“Jika kalian bertanya apakah saya takut kehilangan reputasi? Sama sekali nggak. Dulu, saya memang sangat menjaga reputasi dan rela menjalankan hubungan dengan Daniel. Tapi, karena semua itulah saya kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sekarang saya tidak peduli dengan masalah ratu sekolah ataupun yang lainnya. Yang penting sekrang saya bahagia bersama cowok di samping saya yang tidak tergolong siswa populer, tetapi saya sangat mencintainya”.
“Siapakah gerangan?”.
“Ini adalah Yudha. Dan perlu seluruh media ketahui biar tidak ada kesalahpahaman, bahwa saya Jeany Qiu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Daniel Saputra. Sekarang, saya sedang menjalin hubungan dengan Yudha, cowok di samping saya”.
Para wartawan mengambil foto gue dan Yudha. Ada juga sebagian yang bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat.

'avl'

Senin, 09 Agustus 2010

cerpen-alay

HPS (Hubungan Pake Status)


“Pionnnnnnnnnn!”. Huft, kenapa gue mesti mimpiin dia? Ya Tuhan! Apa ini pertanda, kalo gua bakal...? bodo ah..., mustahil!
Gue turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Yah! Hari ini gua harus sekolah. Selesai mandi, gua nyiapin semua barang-barang yang akan gue bawa. Sisir? Udah, kaca and make-up? Udah, aduh apa lagi ya??
My god! Bukunya....!!

*****
“Hai Re!sapa salah satu temen gue.
“Hai!”gue terus melangkah.
Gue terus berjalan untuk mencapai tujuan, yaitu sampai di kelas XI A1. begitu gue sampai di kelas, sahabat-sahabat gue udah pada ngumpul and lagi pada nge-gosip.
“Eh Reva udah dateng!”sapa Tia.
Gue hanya membalas dengan senyuman sok manis.
Gue duduk di bangku, yaitu tepat disamping bangku Vania.
“Lagi pada ngomongin apa sih?”tanya gue penasaran.
“Ini lho, si Vania punya pacar baru”ceplos Pia.
“Selamat ya sayang! Siapa namanya? Anak mana?”.
“Anak SMA 901 Re, namanya.....”bel berbunyi,omongan Vania terputus.
Kami semua belajar dengan tertib. Gua sama sekali nggak peduli sama terputusnya omongan Vania tadi. Hanya, gue sedikit sesek di dada. Ada apa ya? Gue ngerasa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi sama gue. Gue memutuskan untuk menanyakan semua ini ke Revo, saudara kembar gue. Revo satu-satunya anak laki-laki yang punya indra ke-6. gue harus tanya sama dia!
................
Yes! Akhirnya, selesai sekolah gue hari ini. Gue menuju ke kelas Revo. Untung aja, belum pulang itu anak! Gue menghampiri Vero yang lagi asyik main gitar.
“Revo, gue mau minta tolong!”.
Revo mengendangakan kepalanya, lalu tersenyum.
“Mau minta tolong apa lo? Tumben ke kelas gue. Biasanya lo ogah-ogahan ke kelas gue”.
“Vo, gue ngerasa aneh hari ini. Gue minta tolong dong, lo bacain! Apa yang bakal terjadi sama gue?”.
Revo bangun, menghadap ke gue lalu menatap gue tajam. Nggak berapa lama, Revo meneteskan air mata lalu memeluk gue. Gue heran, apa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi ke gue? Gue melepaskan pelukan Revo.
“Vo, ada apa?”.
“Va, gue percaya lo orang yang tangguh. Lo hadapin semua ini ya! Gue pasti bantu lo Va”Revo membalikkan badannya lalu pergi.
Gue hanya bisa bengong, nggak tau harus ngapain?. Hape gue bergetar, ini sms dari Vania. Gue bener-bener takut kalo sesuatu yang buruk terjadi lewat Vania. Gue membuka sms itu. Isinya “Va, bsk gue sma anak2 mw jlan bareng. Gue mw ngajak mreka ktemu sma pcr gue, lo mw ikut ga?”. Gue membalas sms itu, hanya dengan satu kata “Ya”.
Gue pulang. Di rumah, gue masih memikirkan omongan Revo tadi. Ada apa sebenarnya?
Dan mimpi itu? Kenapa tiba-tiba gue mimpi tentang Pion. Vionel Gumilang (cowok gue, yang udah ninggalin gue). Gue mau ketemu dia lagi! Tapi rasanya imposible aja.
Gue merenung hingga tertidur...

*****
“Reva! Lo nggak jadi ikut?”tanya Pia.
“Oh iya, yaudah yuk!”.
Gue,Vania,Pia,Tia pergi ke cafe tempat Vania janjian. Di jalan, semuanya terasa bahagia. Entah kenapa dibalik rasa senang itu, gue merasa sakit yang mendalam.
Kami turun, memasuki cafe dengan pesanan meja nomor 15. gue inget, angka 15 adalah angka dimana gue dan Pion jadian. Waktu terasa begitu cepat berputar. Hanya gue yang nggak penasaran sama sosok kekasih Vania. Menunduk, hanya itu yang bisa gue lakuin. Vania berlari, gue tetap menunduk. Vania memanggil kami semua.
“Friends, ini cowok gue!”.
Gue mendengakkan kepala gue. Pion?
“Namanya Vionel, bisa dipanggil Pion”lanjut Vania.
Gue terduduk lemas di bangku tepat di depan Pion. Gue ingin pergi sejauh mungkin dari situ, gue ingin lupa ingatan!
Vania menyuruh kami menyalami dan berkenalan dengan Pion. Pia lalu Tia. Sekarang saatnya gue yang menjabat tangan yang udah 2 tahun nggak gue rasain. Gue bangun lalu tersenyum kaku. Pion juga terlihat shock.
“Reva”ucap gua.
“Pi..pi...on”balas Pion gugup.
Gue izin ke kamar kecil. Gue berlari dan menangis sekencang-kencangnya. Kenapa Pion segampang itu lupain gue?? Lo jahat sama gue Pion!
Kami berlima pulang bersama. Entah kenapa, gue berada di samping Pion saat ini. Seakan keadaan mendukung penderitaan gue. Segera gue pergi dari samping Pion. Tapi, tiba-tiba tangan Pion menahan tangan gue lalu menggenggam telapak tangan gue. Gue terdiam, kaku. Pion menggenggam tangan gue tanpa melihat ke arah gue. Gue masih terdiam. Tubuh gue berasa beku ketika gue berada di samping Pion. Rumah gue paling jauh! Tepat banget. So, gue yang paling terakhir dianter. Otomatis, gue ada waktu berduaan sama Pion. Gue benci hal ini!
Setelah semua pergi, kini tinggal gue dan Pion di dalam mobil. Suasana sempat hening, tapi tak berapa lama Pion mengeluarkan suaranya yang serak basah itu.
“Va, kamu udah gede ya! Nggak kerasa kita ketemu lagi”.
“Nggak usah basa-basi Pion, kamu kan nggak peduli sama aku”.
“Va, kamu nggak pernah tau, aku pergi ninggalin kamu untuk kebahagiaan kita”.
“Kebahagiaan? Kamu bilang kebahagiaan? Sinting kamu! Aku nunggu kamu 2 tahun. Berharap kamu kembali. Dan sekarang kamu kembali sudah menjadi kekasih orang lain, sahabat aku sendiri lagi! Kamu tau, apa yang aku rasain saat ini Pion??!”gue turun dari mobil Pion.
Tuhan, bantu aku benci dia! Ini nggak adil Tuhan. Dia mencinta,dan dicintai. Sedangkan aku? Aku hanya terjebak dalam ruang hampa. Yang tak ada seorangpun berada disana. Aku ingin melupakan Pion untuk selamanya. Tuhan! Aku benci Pion!!
Gue terduduk di bawah langit yang sedang menangis. Tiba-tiba ada seseorang yang menolong gue. Dia membawa motor ninja. Softlens gue jatuh, so gue nggak bisa ngeliat dengan jelas. Lagi-lagi gue nggak bisa liat muka orang itu. Motor ini yang selalu ada buat gue. Motor siapa ini? Dan siapa penolong gue?.
“Makasih ya....”motor itu pergi.
Gue hanya menyimpan nomor polisi motor itu. M 1729 RE. Gue inget, gue selalu mendapat pertolongan dari seseorang yang mengendarai motor dengan plat itu.
Sialan! Apa-apaan sih. Nolongin kayak nggak ikhlas. Siapa sih dia? Ngikutin gue terus. Besok kalo ketemu, gue babat lo.

*****
“Vo, kebut dong lo! Lama amat sih. Kalo sampai gue telat, abis lo di rumah”teriak gue.
“Galak amat sih lo Va. Buset, punya kembaran kayak gini 10 aja, mati berdiri gue”.
“Apa lo bilang?? Lho Vo, kok motor lo tambah lambat.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt......
“Yah, abis bensin Va!”.
“Argggghhhhhhhhhhhhhhh!”
Gue lanjutin perjalanan 100% jakil. Coba mobil gue nggak di bengkel! Ah.
Keringetan,capek,pusing itu yang gue rasain. Semangat gue bangkit setelah gue melihat motor ninja merah melintas di hadapan gue. Gue berlari mengejar motor ninja itu.
Tungguuuuuuuuuuuuuuuuuuu! Jangan kabur....
Gue gagal lagi. Seenggaknya dia ngebantu gue cepet nyampe di sekolah. Dan mengejutkan, gue ngedenger kalo Pion kecelakaan. Spontan, gue berlari ke rumah sakit. Menyusul mereka semua. Sesampai di rumah sakit, gue melihat Vania menangis.
“Gimana keadaan Pion Pia?”tanya gue.
“Pion...., udah nggak ada”.
Apa? Gue berlari sekencang-kencangnya ke kamar Pion. Selimut menutup badan Pion perlahan.
Pion......................!!! aku cinta kamu.......................
Gue terduduk lemas. Tangan dan selembar sapu tangan berada di hadapan muka gue. Gue mendengakkan kepala gue. Ternya itu, cowok pengendara motor ninja itu. Gue bangun, memeluk cowok itu. Entah kenapa gue ngerasa nyaman banget. Gue cinta Pion....!, gue cinta Pion....! hanya kalimat itu yang ucapin.
Beberapa saat kemudian, gue tersadar lalu membuka helm cowok itu.
“Pion? Kok bisa?”.
Cowok itu yang gue masih ragu itu Pion atau bukan, tersenyum.
“Semua ini acting sayang!”kata Vania.
“Jadi, lo pura-pura pacaran sama Pion? Lalu yang meninggal tadi siapa?”.
Seseorang keluar dari kamar temapat Pion tadi. Dia tersenyum ke gue. My God! Muka Pion1 dan Pion2? mirip banget. Gue ternganga.
“Nggak usah bengong gitu kali! Gue nggak nipu lo! gue emang pacaran sama Vania. Perkenalkan, gue Vionel Adirangga, adiknya kak Pion. Sebenernya gue dipanggil Rangga, berhubung kak Pion minta tolong untuk ngelaksanain semua sekenarionya dia, ya gue berubah panggilan! Jadi Pion.
Gue masih diam tak percaya.
“Terus, buat apa kamu ngelakuin semua ini Pion? Nggak lucu tau”.
“Vania ini udah lama kenal sama aku. So, aku suruh dia buat mata-matain kamu biar kamu nggak nyeleweng. Dan aku ninggalin kamu, untuk menyelesaikan kontrak aku di layar lebar. Kamu nggak tau kan, aku artis? So, 2 tahun menurut aku itu nggak lama. Dan aku salut, ternyata kamu bisa jaga hati kamu buat aku. Dan tanpa kamu sadari, sebenernya aku selalu ada di samping kamu”.
“Nah kalo gue, gue udah tau semua ceritanya dari Vania. Makanya, gue akting nangis, pura-pura bensin abis. Bagus kan akting gue? Gue bakal bisa nyusul Pion! Hehe”sambung Revo.
“Oh,bagus ya! Jadi kalian semua sepakat mau ngerjain gue. Lo lagi Revo! Awas lo nanti dirumah”.
Revo berlari sambil ngeledek gue “Ampun Reva, aku takutttt”
Gue tersenyum lalu memukul kepala Pion.
“Dasar bodoh! Gue nggak bakal bisa lupa sama lo!”teriak gue.
Pion memeluk gue dan endingnya, kisah cinta gue nggak gantung lagi and HTS udah hancur mejadi HPS (hubungan pake status) :-D


'avl'