Mentari pagi masih memancarkan cahayanya. Kulangkahkan kakiku menuju kesuksesan, sekolah. Dengan mantap aku keluar dari asrama yang hanya berjarak 100 meter dari gedung sekolahku, lebih tepatnya gedung SMA Surya Cipta. Semangat yang selalu mengiringiku adalah dukungan dari orang tua yang berada jauh nan disana juga karena dia, cowok special yang ada di hatiku. Hai, aku Laras, saat ini aku duduk di kelas XII yang sebentar lagi akan menghadapi ujian terbesar dalam hidupku. Kelulusan, yah kelulusan SMA lebih besar bebannya daripada kelulusan SMP ataupun SD. Karena pada kelulusan SMA, merupakan proses peralihan jati dariku yang sudah mulai terbentuk menjadi semakin terbentuk, menjadi dewasa. Dia, cowok special di hatiku. Sebut saja ia Reno. Anaknya baik, teman sekelasku sejak kelas X. Ia juga pintar, segudang prestasi ia raih, tapi seluruh prestasinya tak sejalan denga prestasiku. Aku mungkin berprestasi di kelas, namun untuk nasional, masih belum. Reno sangat akrab denganku. Hingga suatu saat, perasaanku dan perasaan Reno dipersatukan oleh satu rasa, cinta. Saat itu Reno mengungkapkannya secara langsung dihadapanku dan membuatku kagum. “Ehmmm Ras, ada yang mau gue omongin”ucap Reno saat itu. Setengah tau arah pembicaraan, aku menjawab pertanyaan Reno “Mau ngomong apa Ren?”. Reno semakin gelisah, tingkahnya tak karuan. Tak jarang ia menghentakkan kaki dan memainkan jari-jari tangannya kesana-kemari, seolah menandakan kalau ia salting berat. Suasana hening, tak ada pembicaraan apapun. Akhirnya Reno buka suara, dengan terbata-bata ia menyatakan cintanya padaku. “Ras, sebenernya yang mau gue omongin itu…., ehm…., ehm…., tentang…”. “Tentang apa Ren?”timpahku lagi. “Tentang perasaan gue sama lo. Entah kenapa selama tiga tahun kita berteman dan gue sayang sama lo, tapi saat ini rasa sayang gue beda. Gue rasa, gue jatuh cinta sama lo! Lo mau nggak jadi cewek gue?”. Aku diam, terpaku. Bingung harus menjawab apa sore itu di cafĂ© sekolah. “Ehmmm, iya gue mau Ren”jawabku tiba-tiba tanpa berfikir panjang karena aku yakin, Reno serius kepadaku begitu juga denganku yang sangat serius menyukai Reno.
*****
Hampir tiga bulan hubunganku dan Reno sudah berjalan. Rasa kami masih sama, cinta. Tak ada perubahan dari diri kami masing-masing. Tapi, tak jarang juga pertengkaran terjadi. Kalau hubungan tak terjadi pertengkaran, maka hubungan itu flat dan hambar. Namun, kami berhasil melalui semua masalah yang datang menghampiri. Siang itu, Reno yang sedang asyik dengan laptopnya memanggilku. Aku menghampiri Reno sembari membawakannya roti. “Ras….”. “Ada apa Ren? Eh ini roti, sarapan dulu kamu”. Reno tetap fokus dengan laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan saat itu aku pun tak tau. Sesekali ia menatapku, sesekali pula ia mengambil roti dariku lalu memakannya. “Ehm Ras, tadi malem aku mikir dan aku sadar, ternyata kita udah kelas tiga yaaa? Cepet banget yaaa. Hahaa”ucap Reno. Tawa Reno membuatku penasaran. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan serius oleh Reno. Tapi apa? Aku coba memancing dengan pertanyaan yang mengarah. “Haha iya ya, kok kamu baru sadar sih?”tanyaku. “Ya tadi malem itu aku kepikiran. Kayaknya porsi belajar aku harus ditambah deh, kamu juga”jawabnya gantung. “Iya bener, untung kita udah bimbingan di luar”balasku. “Hehe iya sih, tapi kayaknya masih kurang deh. Aku itu ya, setiap malem mikirin kamu terus dan alhasil aku nggak konsen belajar”balasnya lagi. Aku semakin paham, Reno pasti ingin minta putus dariku. “Kamu mau serius sama belajar kamu dulu yaa? Pengen ngejer cita-cita? Hmm, kalo gitu kita putus dulu aja yaa”ucapku to the point. “Loh kok kamu ngomongnya gitu? Kan bukan maksud aku…..”. kutempelkan jari telunjukku di bibir Reno “Sssst, aku minta break bukan karena omongan kamu kok. Semua itu karena aku sadar, kalo kita bener-bener harus full konsen belajar buat setengah tahun kedepan. Ini bukan hanya buat kamu, tapi juga buat aku”jelasku panjang. Reno memandangku penuh senyum. Sangat terlihat sekali, saat aku mengucapkan kata putus, beban yang ia pikul pun sirna. Sedih memang rasanya, tapi aku tak boleh egois dan harus bisa bersikap dewasa. Hanya satu harapan, semoga ia bisa berhasil dengan semua prestasinya. “Makasih kamu udah ngerti aku”ucap Reno. Aku hanya mengangguk lalu keluar kelas. Tak dapat kupungkiri, aku sangat sedih atas kejadian ini. Air mata jatuh membasahi pipiku. Namun aku harus ikhlas, demi Reno, demi prestasinya dan demi kesuksesannya…
*****
Sudah hampir sebulan aku tak berhubungan dengan Reno. Tapi, walau tak ada ikatan kami masih sering bercanda bersama layaknya dua orang yang memiliki ikatan. Mungkin bisa dibilang hubungan tanpa status. Tanpa adanya status, beban Reno hilang. Saat ini Reno sedang mati-matian belajar untuk perlombannya di salah satu universitas bergengsi. Prestasinya yang gemilang, wajahnya yang manis, gayanya yang keren, itu semua bukan alasanku menyukainya. Aku tulus mencintai Reno. Saat aku menganggapnya sebagai teman, aku sangat melihat dan menghargai seluruh prestasinya. Namun saat aku menganggapnya sebagai seseorang yang kucintai, maka semua itu tak terlihatku. Karena aku mencintai Reno tanpa ada embel-embel yang melekat padanya. Aku mencintainya dengan sederhana. Kubuat sebuah puisi untuk Reno dan puisi itu juga sebagai penggambaran isi hatiku.
Segudang Prestasi
Segudang Reputasi
Bergelimang di dirimu
Kemilau kesuksesan
Gemilau keberhasilan
Semuanya tak menyilaukan hatiku
Aku mencintaimu dengan sederhana
Dengan apa yang kupunya
Apa adanya
Hanya satu yang menyilaukan hatiku
Yaitu hatimu
Cintaku tumbuh sempurna karena hatimu, bukan apa yang melekat di dirimu
*****
Reno berhasil, ia memenangkan perlombaan itu. Betapa bahagianya diriku mendengar kabar itu, kabar kesuksesannya. Ternyata perngobananku tak sia-sia. Lega, itu yang kurasakan. Namun, sepertinya ujian datang lagi kepada kami. Sore itu Reno menghampiriku menenteng hapenya. Reno bercerita kepadaku, kalau ada cewek yang sedang PDKT dengannya. Reno bilang kalau cewek itu yang lebih dulu mendekatinya. Semua BM ia tunjukkan padaku. Baru setengah kubaca, aku sudah tak tahan. Tak kuat menahan semua ini, aku pergi. Di dalam kamar aku hanya bisa menangis, lagi lagi menangis karena Reno. Semenjak Reno dekat dengan cewek itu (sebut saja ia Dina), Reno kerap sekali mengabaikanku. Aku merasa, hubungan kami menjadi sangat renggang nyaris terputus. Sekarang, semua perbuatanku selalu salah di mata Reno. Reno menjadi lebih sensitif, ingin selalu diperhatikan, dinomorsatukan. Tapi apakah ia tak berpikir sedikit pun, bagaimana perasaanku saat ini? Entahlah….,mungkin ia ingin benar-benar mengakhiri semuanya denganku dan mungkin saja hatinya telah berpaling ke Dina. Aku tak menyalahkan Reno. Perasaan manusia tak ada yang bisa mengatur. Cinta itu anugrah dari Tuhan. Aku sangat paham teori itu. Namun, mengapa aku sulit menerima semua ini? Apakah aku harus melepaskan Reno dari kehidupanku? Tapi aku masih sangat sayang padanya. Tuhan, apa yang harus kuperbuat? Aku sayang Reno dan ingin selalu melihatnya bahagia. Jika masih terus begini, mungkin aku akan mundur dari hubungan ini…..,demi Reno…. :’)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar