
Glitter Text Maker - eCards
“Satu hal yang selama ini ingin kulakukan, aku ingin jujur”
Aku Jejen Salsabila Wiragunawan. Teman – temanku biasa memanggilku Jejen atau Salsa. Tapi kebanyakan dari mereka memanggilku Jejen. Saat ini aku duduk di bangku SMA. Senang rasanya bisa merasakan hiruk pikuk ritme kehidupan anak SMA. Kata orang – orang masa SMA adalah masa terindah. Setelah beberapa kali kuamati, memang benar, masa SMA adalah masa terindah. Pada masa itu seseorang sedang remaja – remajanya. Lagi sibuk mencari jati diri, mencari teman, dan menyadari satu perasaan, yaitu cinta.
*****
Love, love, and love. Hidup terasa aneh, mati, jika di dalamnya tak ada cinta. Hidupku juga begitu. Bagiku, mencintai seseorang adalah anugrah terindah yang diberikan Tuhan. Sayang, aku hanya berani mencinta tanpa menyatakan perasaanku kepada orang yang kucintai. Dengan begitu bisa dibilang cinta sebelah tangan. Tapi aku yakin suatu saat ada seseorang yang benar – benar mencintaiku dengan tulus dan apa adanya. Keputusanku untuk tidak pacaran, membuatku sulit untuk pendekatan dengan seorang cowok. Sahabat cowok sih banyak, tapi kalo untuk yang ke arah pacaran aku selalu menutup diri. Satu kisah saat SMA yang membuat hidupku menjadi aneh. Kisah antara aku dan seseorang yang saat ini spesial di hidupku, namanya Raditya Kemas Prayuda. Biasanya sih dipanggil Yuda. Kisah itu berawal dari pertemuan singkat, yang entah mengapa aku merasakan satu pandangan tentang Yuda, sombong dan nyebelin. Saat itu benar – benar kesal dan nggak mau kenal yang namanya Yuda. Dia kakak kelasku. Orangnya pinter, supel, muka standar, Cuma gayanya emang cool. Pagi itu, aku berangkat ke sekolah dengan semangatnya. Yuda sudah berada di depan kelasnya. Perlahan tapi pasti aku melewatinya tanpa mengucapkan satu kata pun. Rasa benci itu makin memuncak. Tak bisa memendam sendiri, akhirnya ku putuskan untuk curhat, membagi kisahku kepada teman dekatku, Fadila Trisya. Dila terus mendengarkan curhatan demi curhatanku. “Kisah kamu aneh banget Jen, tapi kayaknya entar kamu bakal suka deh sama Yuda”. Aku melongo, tak ingin perkataan Dila menjadi kenyataan.
Esoknya, aku kembali pergi ke sekolah. Semua siswa sibuk mengerjakan tugas powerpoint dari salah seorang guru. Aku satu kelompok dengan Farasya. Fikiranku masih diselimuti Yuda. Tanpa sengaja Rasya membuka salah satu folder di flashdiskku yang berisi foto Yuda yang kuambil dari akun jejaring sosial. “Jen, ini foto siapa? Kok gue kenal sama jaketnyaa”ucap Rasya. Sontak kuambil laptop itu lalu membawanya kabur. “Jen...”Rasya mengejarku. Akhirnya, aku tertangkap dan mau tak mau harus menceritakan semuanya pada Rasya. “Itu foto Yuda Ras, gue itu benci banget sama doi”tuturku. “Kok bisa benci? Terus ngapain lo ambil foto dia?”. “Semua itu berawal dari pertemuan singkat di eskul elo. Entah kenapa gue bisa benci banget sama dia. Dan beberapa hari yang lalu gue baru tau kalo saudara gue kenal deket sama keluarga doi”. Rasya mendengarkan ceritaku dengan seksama. “Yah begitulah Ras, gue harap yang tau ini Cuma lo dan Dila yaaa” aku mengakhiri cerita. Rasya hanya mengangguk pelan. Tak terasa waktu pulang tiba. Aku dan Dila bergegas pulang. Saat ingin melewati gerbang, melintas sebuah motor ninja merah dihadapan kami. Yah, itu Yuda. si keren yang idolakan banyak orang, kecuali aku.
*****
“Jen, ada Yuda tuh”Rasya menunjuk dengan semangat. “Biarin aja, bodo amat lah. Nggak perduli gue”. Setelah kata – kata itu keluar dari mulutku, seolah semuanya berbalik arah menghujatku. Sejak saat itu, semua yang kusayangi semuanya berhubungan dengan Yuda. Dila, sekarang dia udah lumayan akrab sama Yuda, si kakak kelas yang mempesona itu. Mereka kenal karena satu eskul dan suatu perlombaan. Mungkin karena seringnya Dila menyebut namaku dihadapannya, Yuda mulai mengenalku. Perlahan dia sering menegurku. Siang itu, sesaat sehabis solat duha, aku ingin kembali ke kelas. Aku melihat Yuda berdiri bersandar di tiang koridor. seperti biasa, aku lewat tanpa mengucapkan apapun bisa dibilang tak menegur. Tapi tanpa diduga, saat aku tepat berpapasan berada di sampingnya, Yuda mengucapkan satu kata “Jejeeeen....”. speechless, nggak bisa ngomong apa – apa. Aku hanya tersenyum kecil dan berkata “Heheiyaaa”. Tapi, kenapa saat namaku disebut olehnya, hati ini terasa bahagia luar biasa. Perasaan yang dulu pernah kurasakan, pernah pergi, dan kini seolah perasaan itu kembali hadir. Tapi. Saat aku ingin memutuskan kalau aku suka sama Yuda hati ini menolak. Masih ada segelintir perasaan benci tersisa.
Sesampainya di kelas, aku langsung curhat sama Dila. “Gimana coba Dil?”tanyaku. “Bentar lagi itu mah, bentar lagi kamu bakal klepek-klepek sama Yuda”. Oh God! Apa yang harus aku lakukan? Mesti seneng atau sedih?
*****
“Gila manis banget tuh kakak”ucapku pada Dila. Aku suka pada kakak kelas yang entah hanya perasaan suka biasa atau bisa dibilang jatuh cinta aku tak tau. Yang jelas hatiku saat melihatnya berasa cenat-cenut kalau kata sm*sh. Namanya Beno, orangnya biasa aja, tinggi, item manis. Hadirnya Beno mengurangi sedikit kegalauanku pada Yuda. setiap pulang sekolah aku selalu menunggu Beno keluar dari kelas hanya untuk sekedar melihat keadaannya hari ini.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun belum berganti. Rasaku pada Beno makin memuncak. Yah, kurasa aku benar-benar suka padanya. Tapi sayang, Beno yang sempat akrab sama aku, kini sangat dingin. “Dingin banget ya Jen, kak Beno sama kamu”ucap Mawar, sahabatku juga. “Iya War, kenapa sih Beno jadi kayak gitu?”ucapku sedih. “Dasar kakak kelas pembuat galau”timpah Dila. Sontak aku menoleh, disusul dengan Mawar. Suasana hening, lalu pecah dengan tawa kami. “Iya ya, dasar tuh kakak sialan! Nyampe di rumah showeran yuk”ucapku. “Showeran lima jam”balas Dila. “Nanti air kosan lo abis lagi”balasku lagi. Kami tertawa bersama. Untungnya masih ada mereka. Sehingga aku masih bisa tertawa ditengah-tengah jutaan masalah.
*****
Tahun berganti tahun, sebentar lagi angkatan Beno, Yuda, dan sebangsanya akan lulus dan pergi dari sekolah ini. Perasaan semakin mengecam, bingung, dan tak tau harus berbuat apa. Hari demi hari terlewati tanpa terasa. Yuda yang semakin sering menghantui kehidupanku, sementara Beno yang terus menjauh. Aaaaaaaaaaaaa! Ingin rasanya pergi ke tebing yang tinggi dan berteriak sekencang-kencangnya.
Bingung, kenapa semua ini bisa terjadi dalam hidupku. Puncaknya pada saat aku berulang tahun ke 16. saat itu aku meninginkan 16 harapan dari semua orang. Ternyata, tanpa diduga, harapan ke 16 itu adalah harapan dari Yuda. dalam hati dia berdoa yang aku tak tau apa isi doanya. Kebencian perlahan luntur dan berbalik menjadi respect. Apalagi Rasya pernah curhat padaku “Jen, Yuda udah berubah tau. Anaknya jadi asik, enak diajak curhat”. God! Ucapan itu membuatku semakin bingung akan perasaanku. Nggak mungkin kalau aku suka sama Yuda, dia terlalu tinggi untukku. Kepintarannya, kedewasaannya, wawasannya, membuatku semakin minder. Sementara, waktu semakin berlalu dan Yuda akan lulus dan kuliah di luar kota, provinsi, dan lebih spesifiknya di luar pulau yang saat ini aku tempati. Aku adalah tipe orang yang tertutup, sulit untuk menceritakan perasaanku. Aku ingin jujur, ingin mengajaknya bicara berdua. Ingin menungkapkan semua perasaanku padanya dari awal, awal sekali. Dari mulai aku benci padanya, sampai aku merasakan perasaan ini, yang entah apa namanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar