HPS (Hubungan Pake Status)
“Pionnnnnnnnnn!”. Huft, kenapa gue mesti mimpiin dia? Ya Tuhan! Apa ini pertanda, kalo gua bakal...? bodo ah..., mustahil!
Gue turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Yah! Hari ini gua harus sekolah. Selesai mandi, gua nyiapin semua barang-barang yang akan gue bawa. Sisir? Udah, kaca and make-up? Udah, aduh apa lagi ya??
My god! Bukunya....!!
*****
“Hai Re!sapa salah satu temen gue.
“Hai!”gue terus melangkah.
Gue terus berjalan untuk mencapai tujuan, yaitu sampai di kelas XI A1. begitu gue sampai di kelas, sahabat-sahabat gue udah pada ngumpul and lagi pada nge-gosip.
“Eh Reva udah dateng!”sapa Tia.
Gue hanya membalas dengan senyuman sok manis.
Gue duduk di bangku, yaitu tepat disamping bangku Vania.
“Lagi pada ngomongin apa sih?”tanya gue penasaran.
“Ini lho, si Vania punya pacar baru”ceplos Pia.
“Selamat ya sayang! Siapa namanya? Anak mana?”.
“Anak SMA 901 Re, namanya.....”bel berbunyi,omongan Vania terputus.
Kami semua belajar dengan tertib. Gua sama sekali nggak peduli sama terputusnya omongan Vania tadi. Hanya, gue sedikit sesek di dada. Ada apa ya? Gue ngerasa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi sama gue. Gue memutuskan untuk menanyakan semua ini ke Revo, saudara kembar gue. Revo satu-satunya anak laki-laki yang punya indra ke-6. gue harus tanya sama dia!
................
Yes! Akhirnya, selesai sekolah gue hari ini. Gue menuju ke kelas Revo. Untung aja, belum pulang itu anak! Gue menghampiri Vero yang lagi asyik main gitar.
“Revo, gue mau minta tolong!”.
Revo mengendangakan kepalanya, lalu tersenyum.
“Mau minta tolong apa lo? Tumben ke kelas gue. Biasanya lo ogah-ogahan ke kelas gue”.
“Vo, gue ngerasa aneh hari ini. Gue minta tolong dong, lo bacain! Apa yang bakal terjadi sama gue?”.
Revo bangun, menghadap ke gue lalu menatap gue tajam. Nggak berapa lama, Revo meneteskan air mata lalu memeluk gue. Gue heran, apa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi ke gue? Gue melepaskan pelukan Revo.
“Vo, ada apa?”.
“Va, gue percaya lo orang yang tangguh. Lo hadapin semua ini ya! Gue pasti bantu lo Va”Revo membalikkan badannya lalu pergi.
Gue hanya bisa bengong, nggak tau harus ngapain?. Hape gue bergetar, ini sms dari Vania. Gue bener-bener takut kalo sesuatu yang buruk terjadi lewat Vania. Gue membuka sms itu. Isinya “Va, bsk gue sma anak2 mw jlan bareng. Gue mw ngajak mreka ktemu sma pcr gue, lo mw ikut ga?”. Gue membalas sms itu, hanya dengan satu kata “Ya”.
Gue pulang. Di rumah, gue masih memikirkan omongan Revo tadi. Ada apa sebenarnya?
Dan mimpi itu? Kenapa tiba-tiba gue mimpi tentang Pion. Vionel Gumilang (cowok gue, yang udah ninggalin gue). Gue mau ketemu dia lagi! Tapi rasanya imposible aja.
Gue merenung hingga tertidur...
*****
“Reva! Lo nggak jadi ikut?”tanya Pia.
“Oh iya, yaudah yuk!”.
Gue,Vania,Pia,Tia pergi ke cafe tempat Vania janjian. Di jalan, semuanya terasa bahagia. Entah kenapa dibalik rasa senang itu, gue merasa sakit yang mendalam.
Kami turun, memasuki cafe dengan pesanan meja nomor 15. gue inget, angka 15 adalah angka dimana gue dan Pion jadian. Waktu terasa begitu cepat berputar. Hanya gue yang nggak penasaran sama sosok kekasih Vania. Menunduk, hanya itu yang bisa gue lakuin. Vania berlari, gue tetap menunduk. Vania memanggil kami semua.
“Friends, ini cowok gue!”.
Gue mendengakkan kepala gue. Pion?
“Namanya Vionel, bisa dipanggil Pion”lanjut Vania.
Gue terduduk lemas di bangku tepat di depan Pion. Gue ingin pergi sejauh mungkin dari situ, gue ingin lupa ingatan!
Vania menyuruh kami menyalami dan berkenalan dengan Pion. Pia lalu Tia. Sekarang saatnya gue yang menjabat tangan yang udah 2 tahun nggak gue rasain. Gue bangun lalu tersenyum kaku. Pion juga terlihat shock.
“Reva”ucap gua.
“Pi..pi...on”balas Pion gugup.
Gue izin ke kamar kecil. Gue berlari dan menangis sekencang-kencangnya. Kenapa Pion segampang itu lupain gue?? Lo jahat sama gue Pion!
Kami berlima pulang bersama. Entah kenapa, gue berada di samping Pion saat ini. Seakan keadaan mendukung penderitaan gue. Segera gue pergi dari samping Pion. Tapi, tiba-tiba tangan Pion menahan tangan gue lalu menggenggam telapak tangan gue. Gue terdiam, kaku. Pion menggenggam tangan gue tanpa melihat ke arah gue. Gue masih terdiam. Tubuh gue berasa beku ketika gue berada di samping Pion. Rumah gue paling jauh! Tepat banget. So, gue yang paling terakhir dianter. Otomatis, gue ada waktu berduaan sama Pion. Gue benci hal ini!
Setelah semua pergi, kini tinggal gue dan Pion di dalam mobil. Suasana sempat hening, tapi tak berapa lama Pion mengeluarkan suaranya yang serak basah itu.
“Va, kamu udah gede ya! Nggak kerasa kita ketemu lagi”.
“Nggak usah basa-basi Pion, kamu kan nggak peduli sama aku”.
“Va, kamu nggak pernah tau, aku pergi ninggalin kamu untuk kebahagiaan kita”.
“Kebahagiaan? Kamu bilang kebahagiaan? Sinting kamu! Aku nunggu kamu 2 tahun. Berharap kamu kembali. Dan sekarang kamu kembali sudah menjadi kekasih orang lain, sahabat aku sendiri lagi! Kamu tau, apa yang aku rasain saat ini Pion??!”gue turun dari mobil Pion.
Tuhan, bantu aku benci dia! Ini nggak adil Tuhan. Dia mencinta,dan dicintai. Sedangkan aku? Aku hanya terjebak dalam ruang hampa. Yang tak ada seorangpun berada disana. Aku ingin melupakan Pion untuk selamanya. Tuhan! Aku benci Pion!!
Gue terduduk di bawah langit yang sedang menangis. Tiba-tiba ada seseorang yang menolong gue. Dia membawa motor ninja. Softlens gue jatuh, so gue nggak bisa ngeliat dengan jelas. Lagi-lagi gue nggak bisa liat muka orang itu. Motor ini yang selalu ada buat gue. Motor siapa ini? Dan siapa penolong gue?.
“Makasih ya....”motor itu pergi.
Gue hanya menyimpan nomor polisi motor itu. M 1729 RE. Gue inget, gue selalu mendapat pertolongan dari seseorang yang mengendarai motor dengan plat itu.
Sialan! Apa-apaan sih. Nolongin kayak nggak ikhlas. Siapa sih dia? Ngikutin gue terus. Besok kalo ketemu, gue babat lo.
*****
“Vo, kebut dong lo! Lama amat sih. Kalo sampai gue telat, abis lo di rumah”teriak gue.
“Galak amat sih lo Va. Buset, punya kembaran kayak gini 10 aja, mati berdiri gue”.
“Apa lo bilang?? Lho Vo, kok motor lo tambah lambat.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt......
“Yah, abis bensin Va!”.
“Argggghhhhhhhhhhhhhhh!”
Gue lanjutin perjalanan 100% jakil. Coba mobil gue nggak di bengkel! Ah.
Keringetan,capek,pusing itu yang gue rasain. Semangat gue bangkit setelah gue melihat motor ninja merah melintas di hadapan gue. Gue berlari mengejar motor ninja itu.
Tungguuuuuuuuuuuuuuuuuuu! Jangan kabur....
Gue gagal lagi. Seenggaknya dia ngebantu gue cepet nyampe di sekolah. Dan mengejutkan, gue ngedenger kalo Pion kecelakaan. Spontan, gue berlari ke rumah sakit. Menyusul mereka semua. Sesampai di rumah sakit, gue melihat Vania menangis.
“Gimana keadaan Pion Pia?”tanya gue.
“Pion...., udah nggak ada”.
Apa? Gue berlari sekencang-kencangnya ke kamar Pion. Selimut menutup badan Pion perlahan.
Pion......................!!! aku cinta kamu.......................
Gue terduduk lemas. Tangan dan selembar sapu tangan berada di hadapan muka gue. Gue mendengakkan kepala gue. Ternya itu, cowok pengendara motor ninja itu. Gue bangun, memeluk cowok itu. Entah kenapa gue ngerasa nyaman banget. Gue cinta Pion....!, gue cinta Pion....! hanya kalimat itu yang ucapin.
Beberapa saat kemudian, gue tersadar lalu membuka helm cowok itu.
“Pion? Kok bisa?”.
Cowok itu yang gue masih ragu itu Pion atau bukan, tersenyum.
“Semua ini acting sayang!”kata Vania.
“Jadi, lo pura-pura pacaran sama Pion? Lalu yang meninggal tadi siapa?”.
Seseorang keluar dari kamar temapat Pion tadi. Dia tersenyum ke gue. My God! Muka Pion1 dan Pion2? mirip banget. Gue ternganga.
“Nggak usah bengong gitu kali! Gue nggak nipu lo! gue emang pacaran sama Vania. Perkenalkan, gue Vionel Adirangga, adiknya kak Pion. Sebenernya gue dipanggil Rangga, berhubung kak Pion minta tolong untuk ngelaksanain semua sekenarionya dia, ya gue berubah panggilan! Jadi Pion.
Gue masih diam tak percaya.
“Terus, buat apa kamu ngelakuin semua ini Pion? Nggak lucu tau”.
“Vania ini udah lama kenal sama aku. So, aku suruh dia buat mata-matain kamu biar kamu nggak nyeleweng. Dan aku ninggalin kamu, untuk menyelesaikan kontrak aku di layar lebar. Kamu nggak tau kan, aku artis? So, 2 tahun menurut aku itu nggak lama. Dan aku salut, ternyata kamu bisa jaga hati kamu buat aku. Dan tanpa kamu sadari, sebenernya aku selalu ada di samping kamu”.
“Nah kalo gue, gue udah tau semua ceritanya dari Vania. Makanya, gue akting nangis, pura-pura bensin abis. Bagus kan akting gue? Gue bakal bisa nyusul Pion! Hehe”sambung Revo.
“Oh,bagus ya! Jadi kalian semua sepakat mau ngerjain gue. Lo lagi Revo! Awas lo nanti dirumah”.
Revo berlari sambil ngeledek gue “Ampun Reva, aku takutttt”
Gue tersenyum lalu memukul kepala Pion.
“Dasar bodoh! Gue nggak bakal bisa lupa sama lo!”teriak gue.
Pion memeluk gue dan endingnya, kisah cinta gue nggak gantung lagi and HTS udah hancur mejadi HPS (hubungan pake status) :-D
'avl'
“Pionnnnnnnnnn!”. Huft, kenapa gue mesti mimpiin dia? Ya Tuhan! Apa ini pertanda, kalo gua bakal...? bodo ah..., mustahil!
Gue turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. Yah! Hari ini gua harus sekolah. Selesai mandi, gua nyiapin semua barang-barang yang akan gue bawa. Sisir? Udah, kaca and make-up? Udah, aduh apa lagi ya??
My god! Bukunya....!!
*****
“Hai Re!sapa salah satu temen gue.
“Hai!”gue terus melangkah.
Gue terus berjalan untuk mencapai tujuan, yaitu sampai di kelas XI A1. begitu gue sampai di kelas, sahabat-sahabat gue udah pada ngumpul and lagi pada nge-gosip.
“Eh Reva udah dateng!”sapa Tia.
Gue hanya membalas dengan senyuman sok manis.
Gue duduk di bangku, yaitu tepat disamping bangku Vania.
“Lagi pada ngomongin apa sih?”tanya gue penasaran.
“Ini lho, si Vania punya pacar baru”ceplos Pia.
“Selamat ya sayang! Siapa namanya? Anak mana?”.
“Anak SMA 901 Re, namanya.....”bel berbunyi,omongan Vania terputus.
Kami semua belajar dengan tertib. Gua sama sekali nggak peduli sama terputusnya omongan Vania tadi. Hanya, gue sedikit sesek di dada. Ada apa ya? Gue ngerasa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi sama gue. Gue memutuskan untuk menanyakan semua ini ke Revo, saudara kembar gue. Revo satu-satunya anak laki-laki yang punya indra ke-6. gue harus tanya sama dia!
................
Yes! Akhirnya, selesai sekolah gue hari ini. Gue menuju ke kelas Revo. Untung aja, belum pulang itu anak! Gue menghampiri Vero yang lagi asyik main gitar.
“Revo, gue mau minta tolong!”.
Revo mengendangakan kepalanya, lalu tersenyum.
“Mau minta tolong apa lo? Tumben ke kelas gue. Biasanya lo ogah-ogahan ke kelas gue”.
“Vo, gue ngerasa aneh hari ini. Gue minta tolong dong, lo bacain! Apa yang bakal terjadi sama gue?”.
Revo bangun, menghadap ke gue lalu menatap gue tajam. Nggak berapa lama, Revo meneteskan air mata lalu memeluk gue. Gue heran, apa ada sesuatu yang buruk bakal terjadi ke gue? Gue melepaskan pelukan Revo.
“Vo, ada apa?”.
“Va, gue percaya lo orang yang tangguh. Lo hadapin semua ini ya! Gue pasti bantu lo Va”Revo membalikkan badannya lalu pergi.
Gue hanya bisa bengong, nggak tau harus ngapain?. Hape gue bergetar, ini sms dari Vania. Gue bener-bener takut kalo sesuatu yang buruk terjadi lewat Vania. Gue membuka sms itu. Isinya “Va, bsk gue sma anak2 mw jlan bareng. Gue mw ngajak mreka ktemu sma pcr gue, lo mw ikut ga?”. Gue membalas sms itu, hanya dengan satu kata “Ya”.
Gue pulang. Di rumah, gue masih memikirkan omongan Revo tadi. Ada apa sebenarnya?
Dan mimpi itu? Kenapa tiba-tiba gue mimpi tentang Pion. Vionel Gumilang (cowok gue, yang udah ninggalin gue). Gue mau ketemu dia lagi! Tapi rasanya imposible aja.
Gue merenung hingga tertidur...
*****
“Reva! Lo nggak jadi ikut?”tanya Pia.
“Oh iya, yaudah yuk!”.
Gue,Vania,Pia,Tia pergi ke cafe tempat Vania janjian. Di jalan, semuanya terasa bahagia. Entah kenapa dibalik rasa senang itu, gue merasa sakit yang mendalam.
Kami turun, memasuki cafe dengan pesanan meja nomor 15. gue inget, angka 15 adalah angka dimana gue dan Pion jadian. Waktu terasa begitu cepat berputar. Hanya gue yang nggak penasaran sama sosok kekasih Vania. Menunduk, hanya itu yang bisa gue lakuin. Vania berlari, gue tetap menunduk. Vania memanggil kami semua.
“Friends, ini cowok gue!”.
Gue mendengakkan kepala gue. Pion?
“Namanya Vionel, bisa dipanggil Pion”lanjut Vania.
Gue terduduk lemas di bangku tepat di depan Pion. Gue ingin pergi sejauh mungkin dari situ, gue ingin lupa ingatan!
Vania menyuruh kami menyalami dan berkenalan dengan Pion. Pia lalu Tia. Sekarang saatnya gue yang menjabat tangan yang udah 2 tahun nggak gue rasain. Gue bangun lalu tersenyum kaku. Pion juga terlihat shock.
“Reva”ucap gua.
“Pi..pi...on”balas Pion gugup.
Gue izin ke kamar kecil. Gue berlari dan menangis sekencang-kencangnya. Kenapa Pion segampang itu lupain gue?? Lo jahat sama gue Pion!
Kami berlima pulang bersama. Entah kenapa, gue berada di samping Pion saat ini. Seakan keadaan mendukung penderitaan gue. Segera gue pergi dari samping Pion. Tapi, tiba-tiba tangan Pion menahan tangan gue lalu menggenggam telapak tangan gue. Gue terdiam, kaku. Pion menggenggam tangan gue tanpa melihat ke arah gue. Gue masih terdiam. Tubuh gue berasa beku ketika gue berada di samping Pion. Rumah gue paling jauh! Tepat banget. So, gue yang paling terakhir dianter. Otomatis, gue ada waktu berduaan sama Pion. Gue benci hal ini!
Setelah semua pergi, kini tinggal gue dan Pion di dalam mobil. Suasana sempat hening, tapi tak berapa lama Pion mengeluarkan suaranya yang serak basah itu.
“Va, kamu udah gede ya! Nggak kerasa kita ketemu lagi”.
“Nggak usah basa-basi Pion, kamu kan nggak peduli sama aku”.
“Va, kamu nggak pernah tau, aku pergi ninggalin kamu untuk kebahagiaan kita”.
“Kebahagiaan? Kamu bilang kebahagiaan? Sinting kamu! Aku nunggu kamu 2 tahun. Berharap kamu kembali. Dan sekarang kamu kembali sudah menjadi kekasih orang lain, sahabat aku sendiri lagi! Kamu tau, apa yang aku rasain saat ini Pion??!”gue turun dari mobil Pion.
Tuhan, bantu aku benci dia! Ini nggak adil Tuhan. Dia mencinta,dan dicintai. Sedangkan aku? Aku hanya terjebak dalam ruang hampa. Yang tak ada seorangpun berada disana. Aku ingin melupakan Pion untuk selamanya. Tuhan! Aku benci Pion!!
Gue terduduk di bawah langit yang sedang menangis. Tiba-tiba ada seseorang yang menolong gue. Dia membawa motor ninja. Softlens gue jatuh, so gue nggak bisa ngeliat dengan jelas. Lagi-lagi gue nggak bisa liat muka orang itu. Motor ini yang selalu ada buat gue. Motor siapa ini? Dan siapa penolong gue?.
“Makasih ya....”motor itu pergi.
Gue hanya menyimpan nomor polisi motor itu. M 1729 RE. Gue inget, gue selalu mendapat pertolongan dari seseorang yang mengendarai motor dengan plat itu.
Sialan! Apa-apaan sih. Nolongin kayak nggak ikhlas. Siapa sih dia? Ngikutin gue terus. Besok kalo ketemu, gue babat lo.
*****
“Vo, kebut dong lo! Lama amat sih. Kalo sampai gue telat, abis lo di rumah”teriak gue.
“Galak amat sih lo Va. Buset, punya kembaran kayak gini 10 aja, mati berdiri gue”.
“Apa lo bilang?? Lho Vo, kok motor lo tambah lambat.
Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt......
“Yah, abis bensin Va!”.
“Argggghhhhhhhhhhhhhhh!”
Gue lanjutin perjalanan 100% jakil. Coba mobil gue nggak di bengkel! Ah.
Keringetan,capek,pusing itu yang gue rasain. Semangat gue bangkit setelah gue melihat motor ninja merah melintas di hadapan gue. Gue berlari mengejar motor ninja itu.
Tungguuuuuuuuuuuuuuuuuuu! Jangan kabur....
Gue gagal lagi. Seenggaknya dia ngebantu gue cepet nyampe di sekolah. Dan mengejutkan, gue ngedenger kalo Pion kecelakaan. Spontan, gue berlari ke rumah sakit. Menyusul mereka semua. Sesampai di rumah sakit, gue melihat Vania menangis.
“Gimana keadaan Pion Pia?”tanya gue.
“Pion...., udah nggak ada”.
Apa? Gue berlari sekencang-kencangnya ke kamar Pion. Selimut menutup badan Pion perlahan.
Pion......................!!! aku cinta kamu.......................
Gue terduduk lemas. Tangan dan selembar sapu tangan berada di hadapan muka gue. Gue mendengakkan kepala gue. Ternya itu, cowok pengendara motor ninja itu. Gue bangun, memeluk cowok itu. Entah kenapa gue ngerasa nyaman banget. Gue cinta Pion....!, gue cinta Pion....! hanya kalimat itu yang ucapin.
Beberapa saat kemudian, gue tersadar lalu membuka helm cowok itu.
“Pion? Kok bisa?”.
Cowok itu yang gue masih ragu itu Pion atau bukan, tersenyum.
“Semua ini acting sayang!”kata Vania.
“Jadi, lo pura-pura pacaran sama Pion? Lalu yang meninggal tadi siapa?”.
Seseorang keluar dari kamar temapat Pion tadi. Dia tersenyum ke gue. My God! Muka Pion1 dan Pion2? mirip banget. Gue ternganga.
“Nggak usah bengong gitu kali! Gue nggak nipu lo! gue emang pacaran sama Vania. Perkenalkan, gue Vionel Adirangga, adiknya kak Pion. Sebenernya gue dipanggil Rangga, berhubung kak Pion minta tolong untuk ngelaksanain semua sekenarionya dia, ya gue berubah panggilan! Jadi Pion.
Gue masih diam tak percaya.
“Terus, buat apa kamu ngelakuin semua ini Pion? Nggak lucu tau”.
“Vania ini udah lama kenal sama aku. So, aku suruh dia buat mata-matain kamu biar kamu nggak nyeleweng. Dan aku ninggalin kamu, untuk menyelesaikan kontrak aku di layar lebar. Kamu nggak tau kan, aku artis? So, 2 tahun menurut aku itu nggak lama. Dan aku salut, ternyata kamu bisa jaga hati kamu buat aku. Dan tanpa kamu sadari, sebenernya aku selalu ada di samping kamu”.
“Nah kalo gue, gue udah tau semua ceritanya dari Vania. Makanya, gue akting nangis, pura-pura bensin abis. Bagus kan akting gue? Gue bakal bisa nyusul Pion! Hehe”sambung Revo.
“Oh,bagus ya! Jadi kalian semua sepakat mau ngerjain gue. Lo lagi Revo! Awas lo nanti dirumah”.
Revo berlari sambil ngeledek gue “Ampun Reva, aku takutttt”
Gue tersenyum lalu memukul kepala Pion.
“Dasar bodoh! Gue nggak bakal bisa lupa sama lo!”teriak gue.
Pion memeluk gue dan endingnya, kisah cinta gue nggak gantung lagi and HTS udah hancur mejadi HPS (hubungan pake status) :-D
'avl'


Hahahaaaa.......
BalasHapusNissa ReTama giLax gOkiLs aBiieezt!!!
hahah biasa aja woyy ..
BalasHapusHPS :D
BalasHapus