Jumat, 27 Agustus 2010

raputasi atau cinta ???

Sedan merah mengantarkan gue menuju ke sekolah pagi ini. Dengan mantap gue turun dari mobil. Dari jauh sudah terlihat sobat gue di sekolah, Fanya. Mukanya yang ngeselin tapi bikin gemes tersenyum cerah ke arah gue seolah-olah udah lama banget nunggu. Gue menghampiri Fanya yang masih senyum-senyum ke gue.
“Ngapa lo?”tanya gue spontan.
“Gue kagum sama lo jean, udah cantik, pinter, ratu sekolah, kapten cheers, anggota osis, model. Sampai-sampai baju lo nggak muat nampung atribut penghargaan lo! Udah itu lo dapet pacar sepopuler Daniel lagi!”.
Gue mengabaikan semua yang dikatakan Fanya, karena sesungguhnya gue nggak bahagia dengan semua ini. Gue akui, Daniel populer dan semua cewek di sekolah ini tergila-gila dengannya. Tapi, sebenernya gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia! Gue jadian karena terpaksa. Karena tuntutan dari gelar gue,ratu sekolah dan juga model. sesungguhnya Gue suka sama seseorang yang menurut temen-temen gue biasa aja malah biasa banget! Dia cuma anak rohis yang nggak populer. Tapi, entah kenapa gue bisa jatuh cinta sama dia. Namanya Yudha, pendiem dan jago matematika. Gue udah berusaha ngelupain perasaan gue, tapi semakin hari semakin kuat. Semua cowok sok aktiv sama gue! Tapi kalo Yudha, dia cuek banget. Kenapa hal ini mesti terjadi sama gue?.
Bisa aja, gue ngomong langsung sama Yudha kalo gue suka dia. Tapi, gimana dengan reputasi gue? Gimana kalo semua orang tau gue (ratu sekolah) suka sama Yudha? Mereka pasti protes dan mencabut semua gelar dari diri gue. Apalagi karir gue yang baru gue rintis setahun belakangan, menuntut gue untuk pacaran sama cowok oke. Syarat itu sama sekali nggak ada di diri Yudha! Gue nggak mau karir dan gelar-gelar yang udah gue raih susah payah, hilang begitu aja! Tapi..Yudha....
“Jean? Lo denger nggak sih yang gue omongin?”.
“Eh iya, sorry Fan! Udah yuk kita masuk”.
Ya Tuhan, bisa-bisanya gue nyuekin Fanya! Untung dia nggak curiga.
Selama pelajaran gue masih mikirin masalah tadi. Gue mau nyari jalan keluarnya, tapi sama siapa? Nggak ada orang yang tepat untuk gue ajak sharing.

TENG----TENG----TENG
“Jean? Lo ngelamun lagi? Udah pulang tau!”Fanya menyadarkan lamunan gue.
“Siapa yang ngelamun?”gue memeletkan lidah kemudian pergi.
Gue berjalan menuju gerbang sekolah untuk menunggu Pak Dadang. 5 menit, 10 menit sampai 15 menit kemudian Pak Dadang tak urung datang. Gue udah mulai bete dan capek.
“Mana sih Pak Dadang?”keluh gue dalam hati. Tiba-tiba sebuah motor matic berhenti di hadapan gue. Gue masih menebak-nebak siapa pengandara motor itu. Apa dia Daniel? Nggak mungkin deh! Daniel kan anti banget sama motor kalo panas gini. Siapa ya? Cowok itu membuka helmnya dan tersenyum ke gue. Oh My God! Yudha? Gimana mungkin dia bisa senyum ke gue?
“Lagi nunggu ya?”.
Gue speechless and mati gaya. Yudha melambaikan tangannya di depan muka gue.
“Eh i..iya. lo belum pulang?”.
“Belum. Udah sore ni! Mau gue anterin nggak? Tenang aja,udah sepi kok! Jadi nggak ada yang liat kalo lo dianter sama cowok aneh kayak gue”.
“Ehm..gimana ya? Ya udah deh”.
Gue naik ke jok motornya Yudha. Dengan kilat gue sms Pak Dadang untuk ngbatalin jemput gue. Bodo amat kalo Pak Dadang udah di jalan, suruh siapa lama?. Ya Tuhan...baru kali ini gue sapaan sama cowok yang gue cinta. Kenapa cewek-cewek di sekolah nggak bisa liat karisma dalam diri Yudha ya? Jantung gue serasa dangdutan. Bego! Sampai-sampai gue nggak nyadar kalo udah sampai. Duh...malunya... o_O
“Makasih ya Yud!”.
Yudha hanya tersenyum kemudian berlalu dari hadapan gue. Gue berlari ke kamar dan seperti biasa, gue mengkhayal kayak orang bego! Gue anggap ini sebagai awal dari kisah cinta gue. Pokoknya gue nggak akan lupain kejadian ini..
“Kringg....”. gue bangun lalu bersiap-siap ke sekolah. Aduh, gara-gara mengkhayal semalam ni! Gue jadi ngantuk banget. Mana ada pelajaran Bahasa Indonesia! Semoga aja deh Pak Jono moodnya lagi bagus. Gue sms Daniel untuk jemput gue, soalnya Pak Dadang nggak masuk! Ngambek kali gara-gara kemaren gue tinggal. Suara klakson berdengung di telinga gue. Pasti itu mobil Daniel! Gue pamitan and keluar menghampiri Daniel my boyfriend.
“Hai sayang! Kok tumben kamu minta jemput aku?”.
“Maaf ya! Soalnya Pak Dadang ngambek”.
“Kok gitu?”.
“Udahlah nggak usah dibahas”. Daniel hanya tersenyum kecil. Mobil berjalan menuju sekolah. Begitu melewati parkiran sekolah, gue ngeliat Yudha seperti biasa dengan motor maticnya. Tiba-tiba, Daniel nge-gas mobilnya melewati kubangan air dan air itu mengenai seluruh badan Yudha. Gue spontan menampar Daniel. Daniel yang tadinya tertawa lebar langsung shock.
“Kamu gila ya? Kamu nggak kasihan apa? Jahat kamu!”gue turun lalu menghampiri Yudha yang masih membersihkan noda.
Napas gue terengah-engah. Yudha menaikan kepalanya, tersenyum. Gila ya! Yudha sama sekali nggak marah sama Daniel? Lo emang malaikat Yud.
“Jean? ngapain turun? Gue nggak pa-pa kok!”.
“Lo nggak dendam sama Daniel?”.
“Ngapain harus dendam. Toh, dendam nggak menyelesaikan masalah. Udah sana, lo masuk! Nanti kalo ada yang liat kita berduaan, bisa bahaya”.
satu kata yang bisa gua ambil, HEBAT !

skip ---

Gue berjalan ke kelas dengan bangga bercampur sedih. Gara-gara tuntutan profesi dan popularitas, Yudha jadi minder. Emang susah mau jadi orang nomer satu, harus bisa sombong, bisa menomerduakan perasaan dan kebahagiaan. Pelajaran dimulai, gue melirik ke arah Yudha. Dia kuyup dan kotor. Gue ingin berontak,tapi nggak bisa. Pak Jono masuk kelas kemudian membahas tentang kerja kelompok untuk turun ke lapangan mewawancarai narasumber yang memiliki profesi petani dan nelayan.
“Anak-anak, langsung saja Bapak bagi kelompok! Kelompok satu: Vita dan Amel, kelompok dua: Daniel dan Fito. Kelompok tiga: Fanya dan Wanda. Kelompok empat: Jeany dan Yudha...”.
Gue seneng banget! Dengan begitu gue bisa ngabisin waktu sama Yudha dan kerja kelompok bisa gue jadiin alasan buat Fanya dan Daniel. Fanya terlihat kecewa karena nggak satu kelompok dengan gue. Tapi masa bodo deh! Yang penting gue happy. "Sorry ya Fan"ucap gue dalam hati.
Waktu istirahat, Yudha menuju ke meja gue. Jantung gue berdegup kencang.
“Jean, kira-kira kapan kita mau buat tugas kelompok?”tanya Yudha.
“Seneng lo ya, dapet kelompok sama Jean. Tapi awas lo berani dekatin Jean! Gue nggak rela, karena lo nggak pentes buat dia”samber Fanya kayak petir.
“Udah deh Fan, ini juga cuma kerja kelompok. Dan siapa bilang Yudha nggak pantes buat gue? Hmm, besok boleh Yud! Lo ke rumah gue aja ya”.
“Ok!”.

skip ---

Akhirnya sampai juga di rumah. Gue berlari ke kamar dan melihat jadwal pemotretan gue. Untung aja besok nggak ada! Gue mengamati lambang gelar-gelar gue yang terpampang di dinding dan baju osis gue.Gelar ratu sekolah, kapten cheers, model majalah dan bintang iklan, gadis sampul. Ya Tuhan, apa rela gue ngelepas semua ini demi Yudha. Kalo masalah ratu sekolah, cheers dan yang lainnya gue terima. Tapi kalo karir gue di model? Gue rasa gue belum rela.
Esoknya, Yudha ke rumah gue sesuai janji. Gue menyambutnya dengan senyum sejenak, kemudian menyeretnya keluar dan menarik masuk ke mobil.
“Jean! Lo kenapa?”.
“Udahlah, ikut aja. Bawel amat!”.
Gue starter mobil dan langsung cabut. Nggak peduli sama kaos oblong dan celana pendek juga rol di pony bulan gue. Gue menuju ke mall terdekat untuk mencari barang-barang tugas sekalian jalan-jalan! Hehe..
Gue and Yudha menuju ke tempat elektronik. Gue suruh Yudha yang milih peralatannya. pasalnya Gue nggak ngerti sama sekali. “Ini aja deh kayaknya Jean! Tapi harganya mahal banget. Kualitasnya sih nggak diragukan lagi”.
“Ya udah nggak pa-pa. Udah? Sini gue bayar”.
“Ta..tapi Jean..”.
Gue menarik tangan Yudha menuju ke kasir. Setelah itu, kita pergi ke kedai es-krim. Kali ini Yudha yang traktir gue. Yudha memang cowok baik. Disaat gue ketawa-ketiwi, Yudha tersenyum lalu.. “Sorry Jean”Yudha mengusap es-krim yang blepotan di bibir gue. Gue terdiam sejenak, kemudian kembali seperti biasa. Setelah hari itu berakhir, gue makin dekat sama Yudha dengan alasan kerja kelompok. Perasaan gue ke dia makin menguat. Model tetap jalan, Daniel tetap jadi pacar terpaksa gue, Fanya masih terus-terusan wanti-wanti gue supaya nggak kecantol sama Yudha, karena nggak level. Padahal, belum tau aja dia! Gue udah lama banget kecantol sama Yudha, dari kelas satu. Entah angin dari mana, Daniel menghampiri gue yang lagi sama Fanya dengan terburu-buru dan menggebu-gebu.
“Jean, semenjak si kampung itu dekat-dekat sama kamu, aku jadi jarang kamu perhatiin!”bentak Daniel.
“Kamu kan tau aku itu kerja kelompok sama Yudha”.
“Oke, kalo kamu maunya kayak gitu, sekarang kamu pilih, Aku atau anak kampung itu?”.
Jelas gue milih Yudha lah! Ucap gue dalam hati. Gue pergi tanpa jawaban.

SATU MINGGU KEMUDIAN...
Tugas itu akhirnya selesai. Kelompok gue mendapat hasil terbaik dari beberapa kelas yang mendapat tugas sama. Gue seneng banget! Nggak sia-sia semuanya. Tapi, kesenangan itu hanya sesaat. Hape gue berbunyi dan saat gue angkat, ternyata dari manager gue. Dia menyampaikan berita yang nggak gue duga. Katanya, terbit gosip gue dan Yudha. Saat gue menemui manager gue, dia menunjukan semua foto-foto itu. Astaga! Foto Yudha lagi mengusap es-krim waktu itu. Dan sialnya! Di majalah udah terbit gosip ini. Manager gue juga bilang kalo dia nggak tau siapa yang buat gosip ini. Gue tertunduk lemas. Gue nggak mungkin ngelepas karir dan juga Yudha. Manager gue mengerutkan dahi.
“Jean sayang, mbak ngerti banget perasaan kamu. Dan asal kamu tau, kami cuma menuntut pacar kamu selalu terlihat ok di TV alias hanya penampilannya. Kalo masalah status itu nggak penting. Mbak harap, kamu tau apa yang harus kamu lakukan”Manager gue berlalu.
Yudha kan ganteng banget. Dia itu cuma kurang harta dan popularitas doang. Berarti gue masih bisa berkarir dengan Yudha. Yes!.
Esoknya gue ke sekolah. Bener aja, di mading udah tertempel gosip itu. Gue menemui Yudha. Tapi, apa yang gue dapat? Yudha udah pindah dari kemarin. Ya Tuhan! Gue terlambat. gue pulang, dan hanya bisa merenungi keadaan. Semua ini gara-gara gue yang plin-plan. Gue nggak tegas dalam mengambil keputusan. Daniel datang ke rumah gue disaat nggak tepat.
“Sayang, buat apa kamu mikirin Yudha? Biar aja dia tau rasa atas gosip dan ancaman yang aku buat”.
Gue menoleh tajam “Apa? Jadi kamu yang ngancem dia? Dan gosip itu?”gue menampar Daniel dan berlari kamar untuk mengambil kontak mobil. Daniel berusaha mengejar dan menahan tangan gue.
“Lepas!”teriak gue.
“Aku tegasin, kamu pilih cowok kampung itu atau reputasi dan popularitas kamu?”.
“Aku pilih Yudha! Puas kamu”.
Gue pergi meninggalkan Daniel. Di luar, Fanya menjegat gue.
“Lo yakin mau ngelepasin semua gelar juga reputasi lo? Gue rasa lo nggak sanggup!”.
“Siapa bilang gue nggak bisa? Lihat ini! Makan sama lo” gue mencabut semua atribut di baju osis gue lalu melemparkannya ke Fanya. Fanya terpaku.
Gue menelfon Angga, sobatnya Yudha. Dan Angga bilang, Yudha berangkat ke luar kota sore ini sekitar jam lima. Gue melirik ke arah jam tangan. Yah, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi. Stasiun nggak jauh. Segera gue ke stasiun dan berharap Yudha belum pergi untuk selamanya meninggalkan gue. Akhirnya sampai juga, gue berlari mencoba mencari keberadaan Yudha. Putus asa, akhirnya gue ke resepsionis untuk menanyakan jadwal kereta ke Semarang.
“Lima menit lagi kereta jurusan semarang akan berangkat”.
Gue berlari dengan nafas terengah-engah. Dari kejauhan langkah gue terhenti melihat separuh badan Yudha telah masuk ke dalam kereta. Dengan nafas pendek gue berteriak sekuat tenaga.
“Yudha.....................!!”.
Gue tertunduk lemas. Suara bel kereta udah berbunyi. Gue berbalik arah menuju ke parkiran dengan kepala masih tertunduk. Tiba-tiba langkah gue terhenti, karena ada seseorang dihadapan gue. Gue menaikkan kepala. Ya Tuhan..., ternyata itu?
“Yudha?”gue sontak memeluk Yudha.
“Lo ngapain kesini?”.
“Lo nggak jadi pergi?”gue melepas pelukan Yudha.
“Siapa yang mau pergi? Gue cuma nganterin Bunda sama Adik gue kok!”.
“Terus...lo kenapa pindah?”.
“Gue takut ganggu hubungan lo sama Daniel”.
“Yudha, sekarang gue mau bilang sama lo kalo gue cinta banget sama lo! Gue udah jatuh cinta sama lo dari pertama gue ketemu lo! Lo mau nggak terima gue?”.
“Tapi...,gimana dengan...?”
“Karir? Tenang aja semua udah beres. Kalo Daniel dan reputasi? Itu nggak penting. Yang penting gue bahagia”.
“Lo serius. Kalo gue boleh jujur, gue emang udah ada feel sama lo dari lama. Gue nggak mungkin nolak cewek sebaik lo dan secantik lo”.
Gue tersenyum kemudian memeluk Yudha lagi. “Makasih ya Yud!”.
Pelukan gue terlepas saat tiba-tiba wartawan mengelilingi gue. Gila! Tau aja nih wartawan..., padahal gue kan nggak ngasih tau. So, kita semua mencari tempat yang enak buat wawancara.
“Mbak Jean, apa mbak sudah putus dengan Daniel Saputra? Apa mbak rela melepas reputasi mbak karena pisah dengan Daniel? Dan siapa cowok yang berada di samping mbak?”tanya salah seorang wartawan.
“Jika kalian bertanya apakah saya takut kehilangan reputasi? Sama sekali nggak. Dulu, saya memang sangat menjaga reputasi dan rela menjalankan hubungan dengan Daniel. Tapi, karena semua itulah saya kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sekarang saya tidak peduli dengan masalah ratu sekolah ataupun yang lainnya. Yang penting sekrang saya bahagia bersama cowok di samping saya yang tidak tergolong siswa populer, tetapi saya sangat mencintainya”.
“Siapakah gerangan?”.
“Ini adalah Yudha. Dan perlu seluruh media ketahui biar tidak ada kesalahpahaman, bahwa saya Jeany Qiu udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Daniel Saputra. Sekarang, saya sedang menjalin hubungan dengan Yudha, cowok di samping saya”.
Para wartawan mengambil foto gue dan Yudha. Ada juga sebagian yang bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat.

'avl'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar