“Ngapa lo?”tanya gue
spontan.
“Gue kagum sama lo jean,
udah cantik, pinter, ratu sekolah, kapten cheers, anggota osis, model.
Sampai-sampai baju lo nggak muat nampung atribut penghargaan lo! Udah itu lo
dapet pacar sepopuler Daniel lagi!”.
Gue mengabaikan semua
yang dikatakan Fanya, karena sesungguhnya gue nggak bahagia dengan semua ini.
Gue akui, Daniel populer dan semua cewek di sekolah ini tergila-gila dengannya.
Tapi, sebenernya gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia! Gue jadian karena
terpaksa. Karena tuntutan dari gelar gue,ratu sekolah dan juga model.
sesungguhnya Gue suka sama seseorang yang menurut temen-temen gue biasa aja
malah biasa banget! Dia cuma anak rohis yang nggak populer. Tapi, entah kenapa
gue bisa jatuh cinta sama dia. Namanya Yudha, pendiem dan jago matematika. Gue
udah berusaha ngelupain perasaan gue, tapi semakin hari semakin kuat. Semua
cowok sok aktiv sama gue! Tapi kalo Yudha, dia cuek banget. Kenapa hal ini
mesti terjadi sama gue?.
Bisa aja, gue ngomong
langsung sama Yudha kalo gue suka dia. Tapi, gimana dengan reputasi gue? Gimana
kalo semua orang tau gue (ratu sekolah) suka sama Yudha? Mereka pasti protes
dan mencabut semua gelar dari diri gue. Apalagi karir gue yang baru gue rintis
setahun belakangan, menuntut gue untuk pacaran sama cowok oke. Syarat itu sama
sekali nggak ada di diri Yudha! Gue nggak mau karir dan gelar-gelar yang udah
gue raih susah payah, hilang begitu aja! Tapi..Yudha....
“Jean? Lo denger nggak
sih yang gue omongin?”.
“Eh iya, sorry Fan! Udah
yuk kita masuk”.
Ya Tuhan, bisa-bisanya gue
nyuekin Fanya! Untung dia nggak curiga.
Selama pelajaran gue
masih mikirin masalah tadi. Gue mau nyari jalan keluarnya, tapi sama siapa?
Nggak ada orang yang tepat untuk gue ajak sharing.
TENG----TENG----TENG
“Jean? Lo ngelamun lagi?
Udah pulang tau!”Fanya menyadarkan lamunan gue.
“Siapa yang ngelamun?”gue
memeletkan lidah kemudian pergi.
Gue berjalan menuju
gerbang sekolah untuk menunggu Pak Dadang. 5 menit, 10 menit sampai 15 menit
kemudian Pak Dadang tak urung datang. Gue udah mulai bete dan capek.
“Mana sih Pak
Dadang?”keluh gue dalam hati. Tiba-tiba sebuah motor
matic berhenti di hadapan gue. Gue masih menebak-nebak siapa pengandara motor
itu. Apa dia Daniel? Nggak mungkin deh! Daniel kan anti banget sama motor kalo
panas gini. Siapa ya? Cowok itu membuka helmnya
dan tersenyum ke gue. Oh My God! Yudha? Gimana mungkin dia bisa senyum ke gue?
“Lagi nunggu ya?”.
Gue speechless and mati
gaya. Yudha melambaikan tangannya di depan muka gue.
“Eh i..iya. lo belum
pulang?”.
“Belum. Udah sore ni! Mau
gue anterin nggak? Tenang aja,udah sepi kok! Jadi nggak ada yang liat kalo lo
dianter sama cowok aneh kayak gue”.
“Ehm..gimana ya? Ya udah
deh”.
Gue naik ke jok motornya
Yudha. Dengan kilat gue sms Pak Dadang untuk ngbatalin jemput gue. Bodo amat
kalo Pak Dadang udah di jalan, suruh siapa lama?. Ya Tuhan...baru kali ini
gue sapaan sama cowok yang gue cinta. Kenapa cewek-cewek di sekolah nggak bisa
liat karisma dalam diri Yudha ya? Jantung gue serasa dangdutan. Bego!
Sampai-sampai gue nggak nyadar kalo udah sampai. Duh...malunya... o_O
“Makasih ya Yud!”.
Yudha hanya tersenyum
kemudian berlalu dari hadapan gue. Gue berlari ke kamar dan seperti biasa, gue
mengkhayal kayak orang bego! Gue anggap ini sebagai awal dari kisah cinta gue.
Pokoknya gue nggak akan lupain kejadian ini..
“Kringg....”. gue bangun
lalu bersiap-siap ke sekolah. Aduh, gara-gara mengkhayal semalam ni! Gue jadi
ngantuk banget. Mana ada pelajaran Bahasa Indonesia! Semoga aja deh Pak Jono
moodnya lagi bagus. Gue sms Daniel untuk jemput gue, soalnya Pak Dadang nggak masuk!
Ngambek kali gara-gara kemaren gue tinggal. Suara klakson berdengung
di telinga gue. Pasti itu mobil Daniel! Gue pamitan and keluar menghampiri
Daniel my boyfriend.
“Hai sayang! Kok tumben
kamu minta jemput aku?”.
“Maaf ya! Soalnya Pak
Dadang ngambek”.
“Kok gitu?”.
“Udahlah nggak usah
dibahas”. Daniel hanya tersenyum
kecil. Mobil berjalan menuju sekolah. Begitu melewati parkiran sekolah, gue
ngeliat Yudha seperti biasa dengan motor maticnya. Tiba-tiba, Daniel nge-gas
mobilnya melewati kubangan air dan air itu mengenai seluruh badan Yudha. Gue
spontan menampar Daniel. Daniel yang tadinya tertawa lebar langsung shock.
“Kamu gila ya? Kamu nggak
kasihan apa? Jahat kamu!”gue turun lalu menghampiri Yudha yang masih membersihkan
noda.
Napas gue terengah-engah.
Yudha menaikan kepalanya, tersenyum. Gila ya! Yudha sama sekali nggak marah
sama Daniel? Lo emang malaikat Yud.
“Jean? ngapain turun? Gue
nggak pa-pa kok!”.
“Lo nggak dendam sama
Daniel?”.
“Ngapain harus dendam.
Toh, dendam nggak menyelesaikan masalah. Udah sana, lo masuk! Nanti kalo ada
yang liat kita berduaan, bisa bahaya”.
satu kata yang bisa gua ambil, HEBAT !
skip ---
Gue berjalan ke kelas dengan bangga bercampur
sedih. Gara-gara tuntutan profesi dan popularitas, Yudha jadi minder. Emang susah
mau jadi orang nomer satu, harus bisa sombong, bisa menomerduakan perasaan dan
kebahagiaan. Pelajaran dimulai, gue
melirik ke arah Yudha. Dia kuyup dan kotor. Gue ingin berontak,tapi nggak bisa.
Pak Jono masuk kelas kemudian membahas tentang kerja kelompok untuk turun ke
lapangan mewawancarai narasumber yang memiliki profesi petani dan nelayan.
“Anak-anak, langsung saja
Bapak bagi kelompok! Kelompok satu: Vita dan Amel, kelompok dua: Daniel dan
Fito. Kelompok tiga: Fanya dan Wanda. Kelompok empat: Jeany dan Yudha...”.
Gue seneng banget! Dengan
begitu gue bisa ngabisin waktu sama Yudha dan kerja kelompok bisa gue jadiin
alasan buat Fanya dan Daniel. Fanya terlihat kecewa karena nggak satu kelompok
dengan gue. Tapi masa bodo deh! Yang penting gue happy. "Sorry ya Fan"ucap gue
dalam hati.
Waktu istirahat, Yudha
menuju ke meja gue. Jantung gue berdegup kencang.
“Jean, kira-kira kapan
kita mau buat tugas kelompok?”tanya Yudha.
“Seneng lo ya, dapet
kelompok sama Jean. Tapi awas lo berani dekatin Jean! Gue nggak rela, karena lo
nggak pentes buat dia”samber Fanya kayak petir.
“Udah deh Fan, ini juga
cuma kerja kelompok. Dan siapa bilang Yudha nggak pantes buat gue? Hmm, besok
boleh Yud! Lo ke rumah gue aja ya”.
“Ok!”.
skip ---
Akhirnya sampai
juga di rumah. Gue berlari ke kamar dan melihat jadwal pemotretan gue. Untung
aja besok nggak ada! Gue mengamati lambang gelar-gelar gue yang terpampang di
dinding dan baju osis gue.Gelar ratu sekolah,
kapten cheers, model majalah dan bintang iklan, gadis sampul. Ya Tuhan, apa
rela gue ngelepas semua ini demi Yudha. Kalo masalah ratu sekolah, cheers dan
yang lainnya gue terima. Tapi kalo karir gue di model? Gue rasa gue belum rela.
Esoknya, Yudha ke rumah
gue sesuai janji. Gue menyambutnya dengan senyum sejenak, kemudian menyeretnya
keluar dan menarik masuk ke mobil.
“Jean! Lo kenapa?”.
“Udahlah, ikut aja. Bawel
amat!”.
Gue starter mobil dan
langsung cabut. Nggak peduli sama kaos oblong dan celana pendek juga rol di
pony bulan gue. Gue menuju ke mall terdekat untuk mencari barang-barang tugas
sekalian jalan-jalan! Hehe..
Gue and Yudha menuju ke
tempat elektronik. Gue suruh Yudha yang milih peralatannya. pasalnya Gue nggak
ngerti sama sekali. “Ini aja deh kayaknya Jean! Tapi harganya mahal banget.
Kualitasnya sih nggak diragukan lagi”.
“Ya udah nggak pa-pa.
Udah? Sini gue bayar”.
“Ta..tapi Jean..”.
Gue menarik tangan Yudha
menuju ke kasir. Setelah itu, kita pergi ke kedai es-krim. Kali ini Yudha yang
traktir gue. Yudha memang cowok baik. Disaat gue ketawa-ketiwi, Yudha tersenyum
lalu.. “Sorry Jean”Yudha mengusap es-krim yang blepotan di bibir gue. Gue
terdiam sejenak, kemudian kembali seperti biasa. Setelah hari itu
berakhir, gue makin dekat sama Yudha dengan alasan kerja kelompok. Perasaan gue
ke dia makin menguat. Model tetap jalan, Daniel tetap jadi pacar terpaksa gue,
Fanya masih terus-terusan wanti-wanti gue supaya nggak kecantol sama Yudha,
karena nggak level. Padahal, belum tau aja dia! Gue udah lama banget kecantol
sama Yudha, dari kelas satu. Entah angin dari mana, Daniel menghampiri gue yang
lagi sama Fanya dengan terburu-buru dan menggebu-gebu.
“Jean, semenjak si
kampung itu dekat-dekat sama kamu, aku jadi jarang kamu perhatiin!”bentak
Daniel.
“Kamu kan tau aku itu
kerja kelompok sama Yudha”.
“Oke, kalo kamu maunya
kayak gitu, sekarang kamu pilih, Aku atau anak kampung itu?”.
Jelas gue milih Yudha
lah! Ucap gue dalam hati. Gue pergi tanpa jawaban.
SATU MINGGU KEMUDIAN...
Tugas itu akhirnya
selesai. Kelompok gue mendapat hasil terbaik dari beberapa kelas yang mendapat
tugas sama. Gue seneng banget! Nggak sia-sia semuanya. Tapi, kesenangan itu
hanya sesaat. Hape gue berbunyi dan saat gue angkat, ternyata dari manager gue.
Dia menyampaikan berita yang nggak gue duga. Katanya, terbit gosip gue dan
Yudha. Saat gue menemui manager gue, dia menunjukan semua foto-foto itu.
Astaga! Foto Yudha lagi mengusap es-krim waktu itu. Dan sialnya! Di majalah
udah terbit gosip ini. Manager gue juga bilang kalo dia nggak tau siapa yang
buat gosip ini. Gue tertunduk lemas. Gue nggak mungkin ngelepas karir dan juga
Yudha. Manager gue mengerutkan dahi.
“Jean sayang, mbak ngerti
banget perasaan kamu. Dan asal kamu tau, kami cuma menuntut pacar kamu selalu
terlihat ok di TV alias hanya penampilannya. Kalo masalah status itu nggak
penting. Mbak harap, kamu tau apa yang harus kamu lakukan”Manager gue berlalu.
Yudha kan ganteng
banget. Dia itu cuma kurang harta dan popularitas doang. Berarti gue masih bisa
berkarir dengan Yudha. Yes!.
Esoknya gue ke sekolah.
Bener aja, di mading udah tertempel gosip itu. Gue menemui Yudha. Tapi, apa
yang gue dapat? Yudha udah pindah dari kemarin. Ya Tuhan! Gue terlambat. gue
pulang, dan hanya bisa merenungi keadaan. Semua ini gara-gara gue yang
plin-plan. Gue nggak tegas dalam mengambil keputusan. Daniel datang ke rumah
gue disaat nggak tepat.
“Sayang, buat apa kamu
mikirin Yudha? Biar aja dia tau rasa atas gosip dan ancaman yang aku buat”.
Gue menoleh tajam “Apa?
Jadi kamu yang ngancem dia? Dan gosip itu?”gue menampar Daniel dan berlari
kamar untuk mengambil kontak mobil. Daniel berusaha mengejar dan menahan tangan
gue.
“Lepas!”teriak gue.
“Aku tegasin, kamu pilih
cowok kampung itu atau reputasi dan popularitas kamu?”.
“Aku pilih Yudha! Puas
kamu”.
Gue pergi meninggalkan
Daniel. Di luar, Fanya menjegat gue.
“Lo yakin mau ngelepasin
semua gelar juga reputasi lo? Gue rasa lo nggak sanggup!”.
“Siapa bilang gue nggak
bisa? Lihat ini! Makan sama lo” gue mencabut semua atribut di baju osis gue
lalu melemparkannya ke Fanya. Fanya terpaku.
Gue menelfon Angga,
sobatnya Yudha. Dan Angga bilang, Yudha berangkat ke luar kota sore ini sekitar
jam lima. Gue melirik ke arah jam tangan. Yah, masih ada waktu sekitar 30 menit
lagi. Stasiun nggak jauh. Segera gue ke stasiun dan berharap Yudha belum pergi
untuk selamanya meninggalkan gue. Akhirnya sampai juga, gue
berlari mencoba mencari keberadaan Yudha. Putus asa, akhirnya gue ke
resepsionis untuk menanyakan jadwal kereta ke Semarang.
“Lima menit lagi kereta
jurusan semarang akan berangkat”.
Gue berlari dengan nafas
terengah-engah. Dari kejauhan langkah gue terhenti melihat separuh badan Yudha
telah masuk ke dalam kereta. Dengan nafas pendek gue berteriak sekuat tenaga.
“Yudha.....................!!”.
Gue tertunduk lemas.
Suara bel kereta udah berbunyi. Gue berbalik arah menuju ke parkiran dengan
kepala masih tertunduk. Tiba-tiba langkah gue terhenti, karena ada seseorang
dihadapan gue. Gue menaikkan kepala. Ya Tuhan..., ternyata itu?
“Yudha?”gue sontak
memeluk Yudha.
“Lo ngapain kesini?”.
“Lo nggak jadi pergi?”gue
melepas pelukan Yudha.
“Siapa yang mau pergi?
Gue cuma nganterin Bunda sama Adik gue kok!”.
“Terus...lo kenapa
pindah?”.
“Gue takut ganggu
hubungan lo sama Daniel”.
“Yudha, sekarang gue mau
bilang sama lo kalo gue cinta banget sama lo! Gue udah jatuh cinta sama lo dari
pertama gue ketemu lo! Lo mau nggak terima gue?”.
“Tapi...,gimana
dengan...?”
“Karir? Tenang aja semua
udah beres. Kalo Daniel dan reputasi? Itu nggak penting. Yang penting gue
bahagia”.
“Lo serius. Kalo gue
boleh jujur, gue emang udah ada feel sama lo dari lama. Gue nggak mungkin nolak
cewek sebaik lo dan secantik lo”.
Gue tersenyum kemudian
memeluk Yudha lagi. “Makasih ya Yud!”.
Pelukan gue terlepas saat
tiba-tiba wartawan mengelilingi gue. Gila! Tau aja nih wartawan..., padahal gue
kan nggak ngasih tau. So, kita semua mencari tempat yang enak buat wawancara.
“Mbak Jean, apa mbak sudah
putus dengan Daniel Saputra? Apa mbak rela melepas reputasi mbak karena pisah
dengan Daniel? Dan siapa cowok yang berada di samping mbak?”tanya salah seorang
wartawan.
“Jika kalian bertanya
apakah saya takut kehilangan reputasi? Sama sekali nggak. Dulu, saya memang
sangat menjaga reputasi dan rela menjalankan hubungan dengan Daniel. Tapi,
karena semua itulah saya kehilangan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sekarang
saya tidak peduli dengan masalah ratu sekolah ataupun yang lainnya. Yang
penting sekrang saya bahagia bersama cowok di samping saya yang tidak tergolong
siswa populer, tetapi saya sangat mencintainya”.
“Siapakah gerangan?”.
“Ini adalah Yudha. Dan
perlu seluruh media ketahui biar tidak ada kesalahpahaman, bahwa saya Jeany Qiu
udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Daniel Saputra. Sekarang, saya sedang
menjalin hubungan dengan Yudha, cowok di samping saya”.
Para wartawan mengambil
foto gue dan Yudha. Ada juga sebagian yang bertepuk tangan dan memberikan
ucapan selamat.
'avl'


Tidak ada komentar:
Posting Komentar